Skip to main content

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010


Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah Tuhan memanggil kau untuk hidup di surga-Nya?.
Ya, kawan.. aku berharap itu… aku berharap bahwa Tuhan memanggilmu untuk pulang kerumah-Nya dan menempati rumah Tuhan yang paling damai (surga).

Saudaraku, bayangkan ketika dirimu sedang berada di ranjang kematian, engkau sedang menunggu saat-saat ajalmu akan dijemput, saat-saat ruhmu akan meninggalkan jasadmu. Bayangkan disekelilingmu ada Ayah, Ibu, keluarga, dan sahabat-sahabatmu yang akan melepas kepergianmu untuk selamanya. Mereka larut dalam sedih dan tangisan yang tidak tertahankan.
Pada saat itu, apakah yang sedang terbayang olehmu? Tentu engkau akan teringat bekal yang akan engkau bawa, tentang dosa-dosa, tentang waktu yang telah engkau habiskan dalam hidupmu. Dan adakah penyesalan ketika itu berguna?

Mari kita sejenak merenung, mari kita membuka kembali lembaran masa lalu kita, mari kita buka satu persatu, kita teliti dengan penuh kecermatan.
Untuk apakah waktu yang Allah berikan selama ini kita gunakan? Untuk apakah kita habiskan? Apakah kita masuk pada golongan orang-orang yang selalu menjadikan setiap saat yang dilewati bernilai kebaikan? Ataukah sebaliknya? Bahwa selama ini kita telah banyak lalai dan lupa diri, hingga tanpa kita sadari, diri kita begitu jauh dari Allah, begitu jauh dari kebaikan dan kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk perkara yang sia-sia, untuk bermain dan berhura-hura.

Sadarkah kita bahwa kematian sesungguhnya sangat dekat, kematian tidak bisa ditunda, ia datang tanpa kita duga. Coba kita bayangkan, ketika kita masih asyik dengan kelalaian, ketika bergelimang dosa dan maksiat, ia datang menjemput kita, bisakah kita menolaknya, bisakah kita memintanya untuk diundur walau sehari, agar kita bisa bertobat dan berbuat baik, tentu tidak akan bisa. Lalu adakah penyesalan ketika itu bermanfaat? Adakah tangisan kita ketika itu berarti? Adakah deraian air mata darah ketika itu bisa menunda kematian walau satu menit? Lalu kenapa disaat kelapangan kita tidak berbuat baik? Kenapa kita tidak menggunakan kelapangan itu untuk meningkatkan ibadah, bersedekah, membaca Al Quran, berdzikir, meningkatkan iman dan amal ibadah lainnya? Kemana waktu luang kita selama ini dihabiskan? Kenapa baru menyesal ketika semuanya telah berakhir?

Saudaraku, dengan banyak mengingat mati akan membuat kita selalu berhati-hati dan mengontrol lidah dalam berbicara, selalu menjaga pandangan mata, pendengaran, gerak hati, gerak langkah kaki dan perbuatan kita.
Namun bila kita lalai, lupa diri, kita begitu sibuk dengan dunia yang hanya sementara ini dan mengabaikan akhirat, tentu masa hidup kita akan banyak habis untuk perkara yang sia-sia. Kehidupan dunia bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang tanpa batas tentu sungguh sangat pendek. Hidup kita di dunia hanya berkisar antara 60-70 tahun dan hanya sedikit yang melewati itu, sedang kehidupan akhirat bukan hanya satu hari, satu tahun, ribuan abad, tapi kekal selama-lamanya.
Saudaraku, semoga sepenggal kisah diatas dan sedikit perenungan yang kita lakukan dapat mendorong kita untuk senantiasa giat mempersiapkan diri menghadapi kematian yang telah ditetapkan untuk kita.

Sedikit renungan diatas mudah-mudahan bisa membuat kita ingat akan datangnya kematian, dan membuat kita semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. AMinn....

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…