Skip to main content

Sedekah Bumi Wujud Syukur Para Petani

Masyarakat jawa memang terkenal dengan beragam jenis tradisi dan budaya yang bermacam-macam. Karena begitu beragamnya hingga sangat sulit untuk menyebut dan menjelaskan secara rinci satu per satu jumlah tradisi tersebut. Di Bojonegoro yang sebagian besar penduduknya bermata pencarian sebagai petani terdapat salah satu tradisi yang sampai sekarang masih menjadi rutinitas setiap tahunnya. Sebut saja "SEDEKAH BUMI" atau lebih umum disebut "MANGANAN" oleh sebagian besar warga Bojonegoro. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh petani, karena mereka menggantungkan hidup dari hasil bumi atau alam. Manganan merupakan tradisi turun temurun dari orang-orang terdahulu karena adanya cerita baik tertulis maupun lisan dari generasi ke generasi. Inilah cara orang-orang terdahulu kita mensyukuri nikmat dari Yang Maha Esa.

Di tanah kelahiranku, Dusun Tandingoro Desa Tanjungharjo sedekah bumi atau manganan merupakan tradisi wajib setiap tahunnya, ritual ini merupakan wujud syukur para petani atas perolehan hasil panen mereka setiap tahun.
Tradisi ini dilaksanakan pada hari sabtu pon setiap tahunnya, berkisar antara bulan Agusutus-September, atau lebih mudahnya setelah panen raya. Mengapa harus sabtu pon?
Konon kata para orang tua, sabtu pon merupakan hari kelahiran Dusun Tandingoro. Jadi bertujuan untuk memperingati hari kelahiran dusun Tandingoro juga.
Ritual sedekah bumi dimulai pagi setelah subuh, tampak puluhan bahkan ratusan warga berbondong-bondong membawa nasi ngaron, atau biasa disebut nasi tumpeng ke makam islam Dukuh Tandingoro, diawali dengan tahlil bersama dan kenduri yang dipimpin tokoh agama Desa Tanjungharjo di halaman punden makam. Bukan hanya warga Tanjungharjo yang menghadiri ritual ini, karena begitu besar antusias warga dan hampir setiap keluarga di dusun ini menyediakan nasi tumpeng, sehingga panitia mengundang beberapa warga desa sekitar untuk mengikuti acara di makam pagi itu. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, bahkan tahun ini terasa lebih meriah, karena beberapa hari sebelum hari H warga mulai beberapa kegiatan kerja bakti, seperti bersih-bersih area makam dan renovasi jalan masuk menuju makam, termasuk melekan bareng pada malam sebelum digelar ritual. Kebetulan tempat tinggal saya tak jauh dari lokasi makam, jadi dapat menyaksikan dan nengikuti ritual demi ritual sedekah bumi secara lengkap.
Acara tahlil dan kenduri sendiri dilakukan dua kali, yakni pada pagi setelah subuh yang dikhususkan dihadiri para bapak-bapak dan pemuda sedangkan pada acara siang lebih banyak dihadiri oleh ibu-ibu dan anak-anak. Pada kenduri kedua hampir sama dengan kenduri yang pertama, yang membedakan hanya peserta yang datang. Dimana pada kenduri pertama dikhususkan untuk kaum pria sedangkan pada kenduri yang kedua dihadiri oleh orang umum, tetapi lebih dominan para wanita dan anak-anak, selain nasi tumpeng yang dibagikan pada kenduri kedua adalah jajanan tradisional seperti onde-onde, kucur, jadah, dan buah-buahan. Tak kalah menarik, pada acara kenduri yang kedua ini antusias warga juga sama besar, bahkan banyak anak-anak usia sekolah yang ikut menghadiri ritual ini, hanya sekedar untuk memakan jajanan tradisional ini secara bersama-sama. Terlihat sangat mencolok betapa guyup rukunnya warga desa, saling berbagi dan menyantap makanan Bersama-sama. Hal-hal semacam inilah yang sangat dirindukan setiap tahunnya.



Tak berhenti disitu keseruan ritual ini, siang sekitar jam 1 kenduri yang kedua selesai dan dilanjutkan dengan acara pagelaran wayang kulit dihalaman punden makam, punden tersebut merupakan tempat diyqkininya Raden Ayu Retno Dumilah silem atau menghilang. Beliau adalah putri kerajaan pajang yang melarikan diri karena mengalami kekalahan dalam suatu peperangan. Beliau bersembunyi dan tinggal di dusun ini hingga akhirnya memilih nyilem atau muswa dilingkungan makam. Nama Dukuh Tandingoro sendiri diambil dari kalimat "Tanding nang oro-oro" yang berarti berperang di hamparan yang panas dan luas. Karena memang pada jaman dulu sebagian besar dusun ini merupakan hamparan kosong yang sangat luas hingga sering terjadi peperangan disitu.

Pagelaran wayang kulit merupakan acara puncak dari tradisi sedekah bumi di Dusun Tandingoro yang mana juga digelar dua kali. Saat siang di pelataran punden makam islam dan pada malam harinya digelar di halaman rumah Kepala dusun Tandingoro. Tentunya ini merupakan acara puncak yang ditunggu-tunggu oleh warga, karena kemeriahan acara sedekah bumi ini begitu terasa pada pagelaran wayang pada malam hari. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, acara malam itu dibuka dengan penampilan grup hadrah ibu-ibu PKK Desa Tanjungharjo, kemudian dilanjut dengan tembang-tembang campursari dan terakhir pagelaran wayang semalam suntuk.

Tradisi sedekah bumi yang sudah mendarah daging dan menjadi rutinitas warga masyarakat setiap tahunnya ini merupakan suatu simbol rasa hormat kepada alam dan tanah yang selama ini memberikan kekayaannya kepada manusia serta merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkat, rahmat dan rejeki-Nya yang berupa hasil ternak, pertanian, dll kepada seluruh warga masyarakat Desa Tanjungharjo khususnya dan warga Bojonegoro umumnya. Mari kita lestarikan adat dan budaya warisan nenek moyang kita. Salam Bojonegoro Matoh

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…

Ikat Pinggang Tali Sepatu ( Shoelace Belt )

Selamat malam berroo.. Bay nde wei seumpama sampean lihat orang atau anak muda pakai ikat pinggang tali sepatu, apa yang anda pikirkan??
Mungkin banyak orang mengira mereka itu orang nggak jelas atau sempel mingkin. Jangan salah..
Mereka yang melakukan hal ini adalah kelompok skateboarder, alasan mereka melakukannya adalah bukan karena fashion, melainkan lebih sesuatu yang fungsional dan alasan yang rasional serta fungsi fashion.
Termasuk saya juga, bukan karena ingin dibilang anak skate atau hardcore Family. Saya pribadi penggila Iwan Fals dan Slank jadi sering menghadiri konser-konser mereka di luar kota. Pengalaman saya setiap memasuki area konser selalu dilakukan pemeriksaan, tak jarang ikat pinggang pun disita sementara. Nah dari pengalaman ini saya tidak sengaja lihat foto teman-teman di facebook menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang. Saya coba browsing ternyata subkultural ini memang sudah lama ada.
Mereka menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang lebih karena fakt…