Skip to main content

Marxisme Bukan Aliran Sesat

Sadarlah !

Selama menulis ini saya terus mengingat percakapan-percakapan yang pernah terjadi di masa lalu. Lalu ada satu hal yang menarik perhatian saya, yaitu ketika ada sekelompok orang yang mengaku islamis dan nasionalis mencap marxis sebagai "aliran sesat" dan harus diberantas.

Mungkin para marxis yang kelewat emosi akan berkata "Halah itu hasil doktrin orba" dan sebagainya. Disini saya tidak akan mengikuti mereka yang kelewat emosi. Disini saya akan memberitahu kalian yang mengaku nasionalis dan islamis bahwa KAMI BUKAN MUSUH KALIAN.

Ya kami bukan musuh kalian. Dalam tulisannya yang berjudul "Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme" pada tahun 1926 (dimuat dalam buku "Panca Azimat Revolusi"), Ir. Soekarno pernah menjelaskan mengenai hal ini jauh sebelum adanya doktrin-doktrin "anti komunisme" yang bisa dibilang menjadi agama nasional hingga saat ini.

Tenang saja bung, jika kalian belum pernah membaca tulisan Bung Karno di atas atau lupa dengan isinya, akan ku jelaskan padamu sejelas-jelasnya.

Dalam tulisannya tersebut ia menekankan bahwa ketiga elemen terbesar dalam perjuangan bangsa Indonesia yaitu kaum nasionalis, islamis, dan marxis harus bekerja sama. Bersatu karena apabila kita dapat bersatu, kita akan menjadi sebuah kekuatan yang tak terkalahkan.

Saya mulai dari kaum nasionalis dulu, kalian adalah kaum yang menginginkan persatuan. Begitu pula marxis dan islamis. Tapi kenapa kalian seakan-akan menganggap kami kaum marxis sebagai yang "menginginkan perpecahan." Cobalah kalian lihat Dr. Sun Yat Sen, sang nasionalis yang agung itu dengan senang hati mau bekerja sama dengan kaum marxis. Seperti kata Sukarno dalam tulisannya, "Nasionalis yang segan berdekatan dan bekerja sama dengan kaum Marxis, nasionalis yang semacam itu menunjukkan ketiadaan yang sangat, atas pengetahuan tentang berputarnya roda-politik dunia dan riwayat." Apakah kalian lupa, semenjak kita dijajah hingga merdeka arah pergerakan kita sama ! Apakah kalian lupa, dengan membenci kami kalian juga hanya akan menimbulkan perpecahan, bukankah kalian menginginkan persatuan ?

Maka pantaslah orang-orang nasionalis yang masih berpikir seperti itu, saya sebut sebagai "tidak konsisten" karena ia melanggar omongannya sendiri mengenai persatuan.

Sekarang kaum islamis ! Kami bukan musuh kalian ! Kenapa kalian terus-menerus menganggap kami sebagai aliran sesat ? Bahkan ada satu sumber yang mengatakan bahwa kami akan membawa kaum kalian pada hari akhir. Lupa kah kalian ? Musuh kita sama ! Kita berjuang melawan iblis yang sama, yaitu mereka bangsa-bangsa imperialis barat. Syeikh Djamaluddin El Afghani, seorang panglima Pan-Islamisme bahkan mengkhotbahkan untuk membentuk sebuah barisan islam yang kokoh guna melawan imperialisme barat. Tidak kah kalian pernah mendengar itu ?

Ir. Sukarno dalam tulisannya berkata, "Islam yang sejati tidaklah mengandung azas anti-nasionalistis; Islam yang sejati tidaklah bertabiat anti-sosialistis. Selama kaum Islamis memusuhi faham-faham Nasionalisme yang luas budi dan Marxisme yang benar, selama itu kaum Islamis tidak berdiri di atas Sirothol Mustaqim; selama iu tidaklah ia bisa mengangkat islam dari kenistaan dan kerusakan." Jujur permusuhan diantara kita (Kaum Islamis dan Marxis) merupakan buang-buang waktu, karena tujuan kita sama. Sebagai contoh, kita sama-sama menolak adanya riba seperti yang ada pada Q.S. Al-Imran ayat 129, begitu pula dengan kami, kami menolak dengan keras adanya Meerwaarde (Mehrwert dalam bahasa Jerman)  yang artinya memakan hasil pekerjaan lain orang, tidak memberikan bagian keuntungan yang seharusnya menjadi bagian kaum buruh yang bekerja mengeluarkan untung itu.
Dan asal kalian tahu, Meerwaarde inilah yang menjadi dasar ekonomi kapitalis. Hal inilah yang semestinya kita lawan !

Faham kewajiban zakat dalam Islam juga sejalan dengan apa yang kaum marxis anut mengenai kewajiban si kaya membagiakan rezekinya kepada si miskin. Tidakkah kalian sadar bahwa kita memiliki azas yang sama yaitu "Kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan" ? Bukankah persaudaraan ini pula diperintahkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 ?

Ayo saudaraku, kaum Islamis bersatulah kita. Karena belum pernah ada pergerakan rakyat yang sangat besar dalam sejarah bangsa kita ini seperti pergerakan yang kaum islamis dan marxis lakukan. Apabila kita bersatu kita akan menjadi sebuah kekuatan yang sangat besar !

Kaum Marxis juga.. Berhentilah membenci mereka ! Karena sesungguhnya kaum marxis yang tidak menginginkan persatuan dan terus membenci kaum nasionalis dan islamis, maka merekalah yang dapat disebut racun rakyat.

Tulisan ini hampir habis, terakhir saya ingin mengingatkan jika kita ingin bersatu, kita harus bisa memberi lebih dari apa yang kita terima. Karena bila masing-masing pihak hanya ingin menerima saja tanpa ingin memberi maka persatuan itu hanya mimpi belaka.

Sekian. Salam revolusi.

Azhar Kurniawan

Referensi :
- Al-Quran dan terjemahannya
- "Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme" karya Ir. Sukarno (1926)
- marxists.org
- "Value, Price, and Profit" karya Karl Marx (1865)
- Das Kapital karya Karl Marx

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Sem…

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…