Skip to main content

Menaikkan Harga (ROKOK) Bukan Solusi

Dan lagi isu baru tersebar luas di dunia maya, MULAI BULAN DEPAN HARGA ROKOK NAIK DUA KALI LIPAT. Jujur saja isu ini membuat saya gundah, resah, dan gelisah. Bahkan melebihi galaunya saat diputusin pacar.. hikz.. hikz..
Bagaimana tidak, rokok merupakan sahabat setia saya setiap hari bahkan setiap menit dan detik. Dalam hal ini saya pribadi merasa terdzolimi, seharusnya kita sebagai konsumen adalah orang yang pertama dilibatkan dalam penentuan wacana ini.

Menurut berita yang beredar isu ini bermula dari laporan seorang peneliti Universitas Indonesia (UI) yang mengaitkan hubungan antara harga rokok dan jumlah perokok. Hasil penelitian dosen itu menyebutkan jumlah perokok akan turun jika harga rokok dinaikkan hingga angka Rp50 ribu. Sebanyak 80% responden  penelitian dimaksud setuju atas mosi tersebut. Tidak hanya itu, artikel penelitian itu menyebutkan pemerintah akan mendapat tambahan dana Rp70 triliun dari kenaikan harga rokok itu.

Pada dasarnya kita hanya dibodohi oleh mereka yang dianggap ahli dibidangnya dengan hasil penelitian dan survei yang mereka lakukan. Kalau pun isu ini benar akan terjadi tentunya hanya akan menambah masalah di negara ini. Bagaimana tidak.. mereka hanya meneliti dan melakukan survei serta melaporkan hasil dari penelitian tersebut tanpa memberi solusi akan dampak dari hasil penelitian itu. Masalah rokok masalah tembakau merupakan satu mata rantai yang saling berhubungan.

Bukan hanya kita sebagai konsumen rokok yang dirugikan, karena dipaksa untuk membeli dengan harga yang fantastis tanpa pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Mari kita bebaskan otak kita untuk memikirkan industri rokok menengah kebawah yang bermodal minim. Perlu diketahui, setiap industri rokok diharuskan membeli pita cukai dengan kisaran harga Rp275-Rp300 per batang rokok. Jika kenaikan tarif cukai tembakau tidak memperhitungkan daya beli para industri rokok kecil dengan modal terbatas, hal ini tentu membuat para industri rokok tidak mampu membayar cukai karena minimnya modal yang dimiliki.

Tanpa berpikir panjang lagi tentunya kita bisa mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. Iyaa.. sudah pasti akan terjadi Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK) secara besar-besaran.  Padahal jumlah industri menengah ke bawah di Indonesia mencapai ribuan yang rata-rata memproduksi kretek dengan pekerja sedikitnya 100 orang per pabrik. Maka jangan salahkan jika akan banyak terjadi kriminalitas sebab membludaknya jumlah pengangguran.

Selain itu para petani tembakau pun merasakan dampaknya, sebab jika daya beli masyarakat menurun akibat kenaikan harga yang fantastis tentunya perusahaan rokok akan menurunkan jumlah produksi dan kebutuhan tembakau juga ikut menurun.
Lalu siapa yang akan membeli tembakau mereka?
Lantas apa yang mau dibanggakan dari negeri yang katanya bertanah subur ini, jika mereka para petani yang saling bekerja sama memanfaatkan tanah surga ini tak pernah diperhatikan kesejahteraannya?

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Sem…

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…