Skip to main content

SEKILAS TENTANG TAN MALAKA



Dari Soekarno kita belajar berkebangsaan yang baik
Dari Bung Hatta kita belajar kemandirian ekonomi
Dari Syahrir kita belajar demokrasi
Dan dari Tan Malaka kita belajar supremasi ilmu pengetahuan

Dalam MADILOG beliau selalu mengatakan ada beberapa hal yang menghalangi masa untuk maju, salah satunya adalah alam pikirannya atau yang disebut beliau dengan LOGIKA MISTIKA. Hal tersebut merupakan warisan masa lalu yang menghambat pertumbuhan ilmu pengetahuan karena kita cenderung percaya pada hal mistik, sehingga yang logika/rasional tidak bisa diterima dengan baik dan sebagai senjata berpikir masa tidak baik.

Kalau ada yang bertanya masih rasionalkah pemikiran Tan Malaka jika diterapkan pada masa sekarang ? Saya jawab masih sangat rasional. Bagaimana seorang Tan Malaka pada tahun 40 an sudah mampu berpikir semacam itu, jadi saya sering mengatakan beliau adalah orang yang terlalu cepat dilahirkan, karena gagasannya sering kali melampaui masanya. Beliau sudah banyak memberi contoh bagaimana sejarah umat manusia dengan banyak kebudayaan. Bertumbuh kemudian runtuh karena sebab tertentu. Banyak hal  yang telah beliau jelaskan. Kemudian juga beliau adalah orang yang cosmopolitan, beliau menguasai banyak bahasa, banyak hal kita bisa pelajari dari sosok beliau. Artinya dari Tan Malaka kita harus bisa memetik pelajaran bahwa, “misalnya” PENDIDIKAN DI MASA KINI HARUS BISA LEBIH BAIK.
Mungkin kita bisa berandai-andai atau sekedar merenung bagaimana jadinya negara kita kalau mempunyai seorang politikus seperti beliau, .cosmopolitan, intelektual, seorang polyglote, menguiasai banyak bahasa, pergaulannya luas, pemikirannya luar biasa, namun sayangnya hanya Tan Malaka dan generasinya yang punya itu.

Banyak yang tidak mengerti, Presiden Soekarno memberikan gelar pahlawan nasional kepada Tan Malaka pada tahun 1963. Itu inisiatif sendiri Presiden Soekarno karena jasa Tan Malaka yang begitu besar terhadap Indonesia. Namun, selama lebih dari 30 tahun setelah pemberian gelar itu, nama Tan Malaka dicoret dari pelajaran sejarah, sehingga anak-anak sekolah tidak mengenal sosok Tan Malaka dalam buku sejarah yang mereka baca.

Mungkin orang lupa beliau pernah berkata "Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada di atas bumi". Beliau boleh ditenggelamkan dari sejarah, tapi pemikirannya masih menggeliat di kepala semua orang. Lalu kebesaran namanya tak terbendung lagi, kian besar dan di ganderungi oleh generasi anak cucunya. -

Sejarah adalah milik mereka yang bersuara lantang menantang arus zaman.. Suara mereka abadi dan dikenang sebagai sabda-sabda perubahan -

Dan sekarang, sudah saatnya mengajarkan kepada siswa sebagai suatupelajaran kehidupan, khusus sosok Tan Malaka misalkan, kita ambil nilai-nilai kebajikan dari beliau, kemudian kita bmasukkan dalam materi pelajaran sejarah di Sekolah, karena selama inimereka tak pernah tau siapa itu Tan Malaka. Kita dapat banyak belajar dari gagasan-gagasannya, seperti kata Bung Karno “Orang Indonesia harus mampu berimajinasi dan Bekerja”

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…

Ikat Pinggang Tali Sepatu ( Shoelace Belt )

Selamat malam berroo.. Bay nde wei seumpama sampean lihat orang atau anak muda pakai ikat pinggang tali sepatu, apa yang anda pikirkan??
Mungkin banyak orang mengira mereka itu orang nggak jelas atau sempel mingkin. Jangan salah..
Mereka yang melakukan hal ini adalah kelompok skateboarder, alasan mereka melakukannya adalah bukan karena fashion, melainkan lebih sesuatu yang fungsional dan alasan yang rasional serta fungsi fashion.
Termasuk saya juga, bukan karena ingin dibilang anak skate atau hardcore Family. Saya pribadi penggila Iwan Fals dan Slank jadi sering menghadiri konser-konser mereka di luar kota. Pengalaman saya setiap memasuki area konser selalu dilakukan pemeriksaan, tak jarang ikat pinggang pun disita sementara. Nah dari pengalaman ini saya tidak sengaja lihat foto teman-teman di facebook menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang. Saya coba browsing ternyata subkultural ini memang sudah lama ada.
Mereka menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang lebih karena fakt…