Skip to main content

Wacana Perlawanan


--------------------------------

Aku si bodoh yang tergila-gila ilmu pengetahuan. Pada diriku ada kutukan, atau berkat---setiap kali wawasan yang kutanam panen, selalu saja kutuai ketidak-tahuan. Semakin dan hanya semakin bodoh diri ini kudapati, juga semakin luas ladang-ladangku.

Sebagai petani ilmu pengetahuan aku harus pandai dan rajin mencabuti rumput liar. Sepandai-pandainya, aku tidak menyemprotkan pestisida subjektifitas karena itu bisa membahayakan tanaman yang kurawat penuh cinta. Ya, aku cabuti rumput penganggu itu secara manual dengan tekad ilmiah, mengumpulkannya, lalu membakarnya.

Bukan berarti aku tidak menggunakan sama sekali subjektifitas dalam pertanianku. Aku tetap menggunakannya, tetapi sebagai pupuk untuk mempercepat sprout. Namun itu kulakukan hanya pada awal mula penanaman. Selanjutnya kubiarkan alam yang bekerja.

Seiring berjalannya waktu ketidak-tahuan yang kupanen semakin menumpuk. Ketidak-tahuan itulah beras-beras yang kuhasilkan dengan lelah otak mencangkul di malam hari. Selain tidur, aku juga butuh makan. Jadi kumasak beras-beras itu menjadi nasi yang matang harum dan lezat. Mineralnya memulihkan energi yang membuatku siap bertani lagi esok hari. Begitulah---ketidak-tahuan itu pula yang membuatku bersemangat menanam lebih banyak lagi.

Kemudian sesuatu terjadi. Orang-orang dari pemerintahan pusat berkunjung ke pertanianku. Bergenggamkan kekuasaan putih mereka meminta--nadanya memaksa--untuk melihat hamparan sawah milikku. Sudah pasti aku bertanya untuk apa itu dilakukan, dan mereka bilang, "Demi keutuhan Pancasila". Jadi kupersilahkan mereka, tapi aku tidak sudi menemani.

Aku mengagumi Sang Garuda yang didadanya tertera lima nilai sebagai fondasi tanah airku---tanah subur rumah yang nyaman bagi tanaman-tanamanku. Aku hormati Pancasila sebagai jiwa dalam dadaku---pedoman yang akan melindungi setiap hak pribadi sebagai manusia dari bumi Indonesia. Bukan karena mereka dari pemerintahan izin kuberikan, tetapi karena cintaku pada bangsa. Bagaimana mungkin aku menolak?

Terhirup sebuah aroma menyatroni hidungku. Terlihat langit-langit mulai samar kelabu. Semakin lama dada semakin sesak, jelas ini adalah asap.

Garuda hanya burung, dan Pancasila hanya rentetan kata. Keduanya diternak dan dibudidaya manusia. Tapi kurasa akan lebih sesuai dengan kalimat berikut: Sang Garuda dimanipulasi dan bulu-bulu emasnya--Pancasila--dikuliti untuk dijual ke luar negri.

Kulihat keluar jendela dan terkejut aku memandanginya. Sebuah ladang diujung yang kutiangkan bendera merah besar-besar sedang meronta bisu diperkosa api. Kakiku tak mau digerakkan, jantungku koyak seperti digigit anjing. Tanaman satu itu yang tidak ada kalahnya dengan tanaman lain sedang tunduk pada kemusnahan.

Tidak lagi kulihat orang-orang yang sudah dengan sopan kujamu dan kupersilahkan. Mereka pergi bersama angin yang membuat api semakin besar. Melihat hal itu reflek aku berlari ke depan rumah menyalakan keran lalu kutancap selang. Aku berlari sekuat tenaga pada kebakaran, tidak peduli alir air yang sudah membasahi celanaku bagian kanan.

Mustahil untuk mematikan api sebesar ini. Aku putuskan menyiram air di garis yang terbakar agar tidak melebar. Setelah yakin tidak ada celah baginya untuk menjalar, aku terduduk dengan mata nanar.

Tanaman yang satu ini adalah sejarah kelam bangsaku di masa lalu. Tanaman ini yang paling mempengaruhi pandanganku terhadap tanah air ibu dan ayahku. Tanaman ini yang mendorongku untuk menggali lebih dalam. Tanaman ini yang membuatku yakin bangsaku ini masih dijajah. Mesikpun bukan lagi oleh kolonial, melainkan oleh pribuminya sendiri.

Kini ia terbakar. Sebentar lagi lenyap sudah sosoknya. Sesekali abunya menempel pada kulitku, membuat duka semakin sarat. Tapi apa boleh buat. Kalau kekuasaan putih mau begitu jadinya, terjadilah. Sudah kurasakan nasi lezat dari beras yang dikandung padi tanamanku ini. Walau esok pagi kulihat ia sudah sepenuhnya mati, kenangan akan selalu bersemi bagi mereka yang menyiramnya di dalam hati.

Mendung di mata menyinggung langit. Mendung pula di atas kepala. Tanpa gerimis tanpa ragu, hujan besar seketika datang. Api telah padam. Bendera dan tiang menjadi warna hitam. Aku lepas bajuku dan menuju ke tempat pemanggangan.

Kuambil abu sebanyak yang kubisa. Bahkan arang tak terlewatkan. Kukumpulkan semuatnya diatas baju. Kemudian aku berjalan menelusuri seluruh sawah. Kutaburi abu di setiap ladang yang berbeda, biar kematiannya tidak sia-sia; biar hitamnya ikut menyuburkan tanah. Sambil melakukan itu aku berdeham didalam hati, bersumpah pada diriku sendiri:

Besok aku akan melawan dengan penuh amarah dan kehormatan, walau hanya dengan mulut dan tulisan!

-By (D)haniel (J)uan

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Sem…

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Sebait Puisi Pembuka Konser Suara Untuk Negri Cimahi Bandung

Konser Iwan Fals yang bertajuk Konser Suara Untuk Negri yang diselenggarakan di  Cimahi Bandung bersama Jamrud dan Gigi memang banyak melahirkan inspirasi dan juga semangat buat saya pribadi yang memang mengidolakan Bang Iwan sejak kelas 4 SD. Ada yang menarik di Konser kali ini, Bang Iwan membuka konser dengan sebait puisi yang entah siapa yang menciptakan, saya sendiri kurang tau, yang pasti suara khas Iwan Fals membuat suasana semakin hening.Pada alam yang indah
Pada langit yang mempesona
Kau tunjukkan wajah-Mu
Dengan begitu Kau ajarkan keindahan
Dan rasa syukurKemarin Kau luapkan air bah
Kau muntahkan perut bumi
Kau sebarkan debu
Sesungguhnya Kau tengah mengajarkan cinta
Agar ada rasa kasih walau tak saling kenal
Dan kini untuk alasan yang sama kita bersama
Bersatu atas nama cintaKalimat demi kalimat dalam puisi tersebut sangat menginspirasi, mengajarkan kita untuk tetap bersyukur disela cobaan dan kesedihan yang kita hadapi.
Mengajarkan kita untuk berpikir positif, dan yakin dibalik semua…