Skip to main content

Pancasila Dalam Secangkir Kopi

Masih tentang suasana damai disekitar secangkir kopi. Bukan tentang jutaan inspirasi dalam setiap tegukannya, bukan pula tentang luapan filosofi dibalik hitam pekatnya. Tapi lebih dekat lagi dalam hati setiap pecinta kopi, adalah sebuah kekeluargaan.
Aku merasa sudah begitu akrab dengan suasana semacam ini, dimana sekumpulan orang saling bertukar pikiran, berbagi canda tawa, menghibur diantara mereka hanya terdiam memperhatikan dan dirundung kemurungan.
Inilah sebenar-benarnya suasana warung kopi. Berbagai macam profesi yang berbeda, latar belakang pendidikan dan isi kepala yang tak sama, membaur dalam sebuah tradisi yang kita semua telah sepakati dengan sebutan "ngopi". Karena secangkir kopi mereka mampu saling memahami, seakan semua gejolak dalam kepala bersatu dalam satu warna, hitam pekatnya secangkir kopi. Berbeda pendapat dan pemikiran adalah hal wajib yang setiap hari menjadi bumbu penyedap perbincangan mereka.

Disini tidak ada sosok matarom yang pongah dengan catur peraknya, tak ada pula preman pasar yang pandai memasang wajah seram dibalik sosok cebolnya, seperti apa yang diceritakan Andrea Hirata dalam karya novelnya yang berjudul Cinta Dalam Gelas. Karena yang aku pahami selama ini, pahitnya kopi mampu melarutkan segala macam perasaan. Hingga tak seorang pun mampu berdiam dan menyembunyikan suara hati setiap kali menjalani tradisi ini.
Aku masih ingat beberapa hari yang lalu ketika mereka bercerita tentang sejarah kelam bangsa ini, pelanggaran HAM masa lalu, sampai Festival HAM 2016 yang akan digelar di Bojonegoro. Tapi pembahasan itu tak berjalan begitu lama ketika seseorang membelokkan pembahasan pada beberapa masalah pertanian.

Akhir-akhir ini semua petani di desaku merasa terusik dengan semakin banyaknya populasi tikus yang menyerang padi mereka. Pembahasan tentang pertanian memang tak pernah bisa dihindari setiap harinya. Karena memang sebagian besar mereka pecinta kopi disini adalah berprofesi sebagai petani. Perbedaan pendapat dan pemikiran yang sebelumnya menjadi bumbu perdebatan seolah hilang begitu saja ketika mereka bercerita tentang kondisi pertanian masing-masing. Hal-hal semacam inilah yang aku kagumi dari sosok-sosok sederhana seperti mereka yang notabene nya berpendidikan rendah, tapi ternyata mampu berguru pada kenyataan dan pengalaman.

Petani memang tak pernah bebas dari masalah dan hama, begitupun mereka  para petani di desa tempat tinggalku, selalu saja dihadapkan dengan berbagai masalah, mulai dari sulitnya mendapatkan pupuk organik, harga jual gabah yang rendah saat panen tiba, ditambah lagi serangan berbagai macam hama, seperti wereng, keong mas, hama slundep bahkan tikus seperti pada saat ini. Sekitar satu tahun yang lalu cangkir kopi di warung ini menjadi saksi sebuah musyawarah mufakat para petani untuk memerangi hama tikus. Saat itu mereka bersepakat untuk menambah jumlah populasi burung hantu sekaligus menyediakan sebuah rumah kecil disetiap petak sawah untuk burung hantu, dan berharap populasi tikus akan berkurang karena dimakan oleh burung hantu. Tapi ternyata cara itu dianggap kurang efisien.
Beberapa hari yang lalu mereka kembali menyusun sebuah strategi untuk menumpas hama ini. Kali ini mereka tidak lagi memanfaatkan sebuah siklus rantai makanan untuk melawan tikus. Mereka mengajak seluruh warga dan bersinergi dengan Babinkamtibmas dibantu Linmas turun tangan langsung dan bersepakat gotong royong memburu tikus-tikus itu secara serentak dengan alat seadanya. Mungkin cara semacam ini tak bisa menumpas habis populasi tikus sawah. Setidaknya mereka telah memperlihatkan sebuah semangat gotong royong yang solid untuk pertanian mereka.

Suasana warung kopi memang tak pernah jauh berbeda setiap harinya. Beberapa orang duduk saling berhadapan dengan cangkir kopi di depan masing-masing, asap tembakau yang mengepul bergantian. Yaa memang terlihat monoton. Tapi jangan pernah salah berpikir tentang itu semua. Dibalik sebuah tradisi yang mungkin dianggap tidak sehat bagi beberapa orang ini tersimpan tambang ilmu pengetahuan yang sebagian besar tak pernah kita dapatkan di sekolah tingkat dasar sampai perguruan tinggi bahkan pendidikan S3 sekalipun. Dan satu hal yang mungkin tak pernah kita semua sadari dari suasana disekitar secangkir kopi, warung kopi mengajarkan kita tentang sebuah ideologi, yaitu Pancasila. Seperti yang kita semua pahami pancasila merupakan pedoman hidup Bangsa Indonesia. Dan ternyata banyak sekali butir-butir pancasila yang terkandung dalam secangkir kopi. Sebut saja persatuan, kegotongroyongan, kekeluargaan, pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Aku pun baru menyadari hal-hal semacam ini. Pancasila memang tak pernah lepas dari keseharian hidup kita. Mungkin masih banyak hal lagi yang tanpa kita sadari telah kita lakukan setiap hari. merupakan pengamalan dari butir-butir Pancasila itu sendiri.

#festHAM #pancasila #festHAM2016

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Sem…

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Sebait Puisi Pembuka Konser Suara Untuk Negri Cimahi Bandung

Konser Iwan Fals yang bertajuk Konser Suara Untuk Negri yang diselenggarakan di  Cimahi Bandung bersama Jamrud dan Gigi memang banyak melahirkan inspirasi dan juga semangat buat saya pribadi yang memang mengidolakan Bang Iwan sejak kelas 4 SD. Ada yang menarik di Konser kali ini, Bang Iwan membuka konser dengan sebait puisi yang entah siapa yang menciptakan, saya sendiri kurang tau, yang pasti suara khas Iwan Fals membuat suasana semakin hening.Pada alam yang indah
Pada langit yang mempesona
Kau tunjukkan wajah-Mu
Dengan begitu Kau ajarkan keindahan
Dan rasa syukurKemarin Kau luapkan air bah
Kau muntahkan perut bumi
Kau sebarkan debu
Sesungguhnya Kau tengah mengajarkan cinta
Agar ada rasa kasih walau tak saling kenal
Dan kini untuk alasan yang sama kita bersama
Bersatu atas nama cintaKalimat demi kalimat dalam puisi tersebut sangat menginspirasi, mengajarkan kita untuk tetap bersyukur disela cobaan dan kesedihan yang kita hadapi.
Mengajarkan kita untuk berpikir positif, dan yakin dibalik semua…