Skip to main content

Warung Kopi Dari Waktu Ke Waktu

"Semakin dalam berkubang di dalam warung kopi, semakin ajaib teman-temanku."
"Kopi bukan sekedar air gula berwarna hitam, tapi pelarian dan kebahagiaan."

Kubaca kutipan itu pada sebuah karya novel, Cinta Dalam Gelas  Andrea Hirata. Warung kopi merupakan tempat bagi segala nasib bermuara. Bukan hanya hitam pekat secangkir kopi yang tertuang disana, lebih dari itu ada banyak hal lain yang bisa kita nikmati. Seperti yang ditulis Bang Andrea Hirata pula,

"Disana kau akan dengar,
Para penganggur akan sibuk menghujat pemerintah,
Para suami mengeluhkan hutang piutang,
Hingga buruh yang berbincang perihal rencana demo kenaikan upah."

Aku ingat, saat itu aku duduk di kelas satu SMP, pertama kali memasuki sebuah tempat yang asing bagiku dan untuk pertama kalinya pula melihat berbagai macam ekspresi wajah yang berbeda dalam sebuah ruangan dengan kursi beserta meja yang berjajar, diatasnya tersaji beberapa macam jajanan. Kemudian aku mengenalnya dengan nama warung kopi. Ada perasaan aneh yang menyergap, sudah pasti karena aku belum terbiasa dengan situasi kondisi serta gaya bahasa mereka yang sarkas nan satire terhadap berbagai macam persoalan yang mereka hadapi. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku sadar jika hal-hal semacam itu merupakan candu buat mereka para pecinta kopi. Karena hanya disana mereka mampu memuntahkan segala macam unek-unek dalam kepala.

Tapi apa yang aku temui akhir-akhir ini, saat aku menjadi mahasiswa sangat berbeda dengan apa yang ada waktu aku SMP dulu. Dari warung kopi samping rumah sampai ke kafe dan kedai-kedai kopi diperkotaan tak lagi ku temui sarkas-sarkas untuk pemerintah, guyonan-guyonan khas warung kopi jaman dulu.
Zaman memang sudah berubah, ke-modern-an menggerus itu semua. warung kopi yang dulu terasa nyaman karena canda gurau dan kaya akan berbagai ilmu yang tak pernah mungkin kita dapat di bangku sekolah kini menjadi sunyi senyap karena gaya hidup baru para pecinta kopi.
Kulihat, mereka tak lagi menghujat, mengeluh, ataupun berdebat.
Berbincang pun seperti enggan?
Mereka berkumpul, duduk saling berhadapan, tapi masing-masingnya tertunduk.
Lalu kau akan dengar dari yang baru datang,
"Bu, kopi item satu. Kata sandi WIFI hari ini apa?"

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Sem…

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Sebait Puisi Pembuka Konser Suara Untuk Negri Cimahi Bandung

Konser Iwan Fals yang bertajuk Konser Suara Untuk Negri yang diselenggarakan di  Cimahi Bandung bersama Jamrud dan Gigi memang banyak melahirkan inspirasi dan juga semangat buat saya pribadi yang memang mengidolakan Bang Iwan sejak kelas 4 SD. Ada yang menarik di Konser kali ini, Bang Iwan membuka konser dengan sebait puisi yang entah siapa yang menciptakan, saya sendiri kurang tau, yang pasti suara khas Iwan Fals membuat suasana semakin hening.Pada alam yang indah
Pada langit yang mempesona
Kau tunjukkan wajah-Mu
Dengan begitu Kau ajarkan keindahan
Dan rasa syukurKemarin Kau luapkan air bah
Kau muntahkan perut bumi
Kau sebarkan debu
Sesungguhnya Kau tengah mengajarkan cinta
Agar ada rasa kasih walau tak saling kenal
Dan kini untuk alasan yang sama kita bersama
Bersatu atas nama cintaKalimat demi kalimat dalam puisi tersebut sangat menginspirasi, mengajarkan kita untuk tetap bersyukur disela cobaan dan kesedihan yang kita hadapi.
Mengajarkan kita untuk berpikir positif, dan yakin dibalik semua…