Skip to main content

Eid Milad Nahdhatul Ulama yang ke 91 (31 Januari 1926 - 31 Januari 2017)

Eid milad Nahdhatul Ulama yang ke 91 (31 Januari 1926 - 31 Januari 2017). Semoga Nahdhatul Ulama berangsur kembali ke khittal awalnya, yaitu bersatu berjihad melawan Imperialisme, Feodalisme, dan Kapitalisme. Kita tidak boleh lupa bahwa, Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy'ari yg merupakan saudara seperguruan K.H. Ahmad Dahlan adalah pejuang yg sangat anti terhadap penindasan. Maka kita sebagai penerus mereka berdua, tidak boleh lupa tugas-tugas hari ini.

Sudah bukan ranah kita lagi dalam membicarakan soal toleransi, kita sudah clear bersepakat soal itu. Namun, yg mesti kita lakukan adalah memberantas penindasan kultural atas nama Islam dan hegemoni ekstrimis yg menyeret kita pada konflik-konflik kekanak-kanakan. Bahwa kita mestinya tidak usah lagi mempermasalahkan akhirat yg belum pasti, kita mesti melancarkan pembelajaran dan sosialisasi ke masyarakat bahwa kita harus menciptakan surga di bumi. Karena pada dasarnya, tugas manusia sebagai khilafatul fil ardh' adalah mewarisi bumi dan tidak merusaknya. Jika kita memahami hakikat dari surga itu sendiri, maka dengan tidak merusak bumi pun, kita sudah menciptakan surga.

71 tahun setelah Resolusi Jihad NU

Ijtihad untuk keberpihakan politik tersebut saya kira masih relevan untuk diterapkan. Ijtihad Resolusi Jihad NU 21-22 Oktober 1945 menunjukkan bahwa para santri dan kiai NU memiliki sifat progresivitas dimana mereka sudah memilih berpihak pada rakyat dibandingkan dengan Imperialisme Belanda segala taktik diplomasinya. NU menjadi organisasi Islam pertama setelah Aliansi Persatuan Perjuangan dan PKI yg mengeluarkan pernyataan sikap keberpihakan politik yg tegas dalam rangka Revolusi Agustus.

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW tampil sebagai seorang pembela kaum mustadh'afin, Abu Dzar Al Ghifary, hingga Haji Misbach, KH. Achmad Chatib, dan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, maka seharusnya para santri yg belajar di pesantren lebih mengerti etika pembebasan daripada kami yg belajar di luar pesantren. Dengan berkaca pada sejarah, maka sudah seharusnya kaum santri dan kaum progresif lainnya bergabung dalam satu barisan menunjukkan keberpihakan politik yg sama dengan yg pernah dilakukan NU 71 tahun yg lalu dalam rangka melawan Neoliberalisme kini. Jangan sampai agama menjadi benar-benar minuman yg memabukkan sehingga rakyat dikondisikan untuk lupa akan penindasan yg dialami mereka.

NU telah menunjukkan kepada kita bahwa agama bukanlah jalan damai yg menawarkan surga individualitas tanpa adanya asas Hablumminannas, agama merupakan jalan keselamatan dan pembebasan kaum tertindas jua dalam melawan sistem yg menindasnya. Dalam hal ini, NU memang menjadi organisasi Islam yg progresivitasnya setara dengan Sarekat Islam Merah. Harapan saya, semoga kaum santri tidak pernah melupakan adanya realita sosial yg membuat kita harus berpihak pada rakyat dan melawan musuh-musuh rakyat.

Kita mesti bangga dengan Nahdhatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar di dunia - bersama Muhammadiyah - sanggup menjaga keutuhan ukhuwah al Islamiyah selama hampir satu abad. Maka kita sebagai penerus dua pendirinya mesti terus menjaga ukhuwah tersebut sehingga tidak mudah diceraiberaikan oleh kekuatan Imperialisme. Karena pada sesungguhnya, kita harus tahu bahwa musuh Imperialisme hari ini adalah Islam. Lihatlah bagaimana Trumph sangat takut terhadap perkembangan Islam di Amerika Serikat. Dunia hari ini mempunyai dua konflik besar, yaitu antara Imperialisme dengan rakyat dan juga antara Islam dengan Imperialisme. Maka sejatinya, Islam mesti membumi bersama rakyat menentang setan yg sebenarnya - yaitu Imperialisme.

Eid milad buat Nahdhatul Ulama yg ke 91.
Hidup Nadhatul Ulama!!!
Hidup para ulama Indonesia!!!
Hidup para santri Indonesia!!!
Hidup rakyat pekerja Indonesia!!!

#HarlahNU91

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Sem…

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…