Skip to main content

Berpikir Bebas, Membebaskan Pikiran Dalam Konteks Sebagai Pribadi Muslim Yang Kritis

"Sebagian orang meminta agar saya berpikir dalam batas-batas Tauhid, sebagai konklusi globalitas ajaran Islam. Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi. Apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri? Saya percaya pada Tuhan, tapi Tuhan bukalah daerah terlarang bagi pemikiran. Tuhan ada bukan untuk tidak dipikirkan 'adaNya'. Tuhan bersifat wujud bukan untuk kebal dari sorotan kritik. Sesungguhnya orang yg mengakui berTuhan, tapi menolak untuk berpikir bebas, berarti menolak rasionalitas eksistensinya Tuhan. Jadi dia menghina Tuhan karena kepercayaannya hanya sekedar kepura-puraan yg tersembunyi."
(Ahmad Wahib dalam Catatan Hariannya)

Kutipan panjang tersebut memberikan kita senjata untuk melawan ketakutan akan berpikir bebas. Sebelumnya, dogma agama dan mistisme membuat kita terkurung sehingga untuk mempertanyakan hal yang sangat fundamental dianggap tabu. Padahal pertanyaan itu sangat penting dilontarkan agar pemahaman kita terhadap agama bukanlah pemahaman karena genealogi. Padahal Alqur'an menyatakan bahwa:

"Dan tidak ada seorangpun akan beriman, kecuali dengan izinNya. Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yg tidak mempergunakan akalnya" (QS Yunus: 100)

Selain itu terdapat ayat lain yg menyatakan keutamaan berpikir yaitu:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal" (QS Ali Imran:190)

Kedua ayat tersebut menerangkan kewajiban bagi umat manusia untuk berpikir dan hukuman bagi orang yg malas berpikir. Disana kita mendapat penggambaran bahwa Tuhan memberikan kita akal bukan semerta-merta ingin membatasi pikiran. Hal tersebut bisa dipahami seperti ini, selama ini kita belum pernah tahu batasan pikiran sampai mana. Jika kita tidak mencoba berpikir bebas, maka kita tidak akan mendapatkan batasan pemikiran yg ditentukan Tuhan sebenarnya. Pernyataan yang menyatakan bahwa, "kita harus memikirkan ciptaan-Nya, bukan zat-Nya", bukan merupakan batasan dari pikiran kita, melainkan peringatan atas pendekatan batas pemikiran kita.

Jika Tuhan tidak memperbolehkan kita memikirkan zat-Nya, maka kita tidak akan pernah tahu kebesaran-Nya. Maka kita tidak perlu ragu memikirkan soal zat-Nya, karena dari sanalah iman kita dapat bertambah. Nashruddin Syarief dalam artikelnya soal Epistemologi Islam menjelaskan bahwa:

"Sebagai bukti lain bahwa Islam memerangi Sofisme (paham yg menyatakan kebenaran itu relatif/skeptisme), Islam mewajibkan pencarian ilmu pengetahuan"

Maka agar kita tidak ragu, maka kita harus berpikir bebas, dimana Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya menyatakan bahwa:

"menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim"

Ilmu adalah wujud dari kehendak bebas pemikiran manusia. Manusia yang membebaskan pikiran akan mendapatkan ilmu yang berguna bagi dirinya. Jika kita berpikir bebas, Tuhan -seperti kata Ahmad Wahib- akan senang dan bangga dengan kita. Jika kita berpikir bebas, kita dapat melakukan eksperimen untuk menentukan kebenaran mutlak berdasarkan fakta empiris dan kesimpulan logis. Inilah manfaat berpikir bebas.

Muhammad Natsir sendiri mengungkapkan bahwa Nabi Muhammad SAW meletakkan akal pada tempat yg terhormat dan menjadikan akal itu sebagai salah satu alat untuk mengetahui Tuhan. Singkatnya, akal itulah yang memerdekakan kaum Muslim dari kekolotan yang ada. Seperti yang kita saksikan, orang yg tidak membebaskan pikirannya jatuh menjadi teroris dan orang yang membebaskan pikirannya akan menjadi orang bijak yg mampu memahami semesta. Tentunya kemerdekaan pikiran itu tetap dalam batasan.

Apa yg dipikirkan dan apa yang menjadi batas kebebasan berpikir?

Tentunya sudah jelas bagi kita, yang dipikirkan ialah keseluruhan hal yang ada, bahkan Tuhan sekalipun. Mengutip perkataan Muhammad Natsir, bahwa akal adalah cara bagaimana umat muslim untuk mengetahui Tuhannya. Al Ghazali juga pernah berkata bahwa jika kita membebaskan pikiran kita untuk memahami seluruh ciptaan Tuhan, maka kita juga memikirkan Tuhan dan memahami-Nya. Sedangkan, alat untuk memahamiNya ialah wahyu.

Batasan kebebasan pikiran adalah relatif bagi setiap manusia yang berpikir. Kita akan memperoleh batasan ketika kita sudah tidak mengetahui lagi soal keadaan tertentu hingga kita berkata "Wallahu a'lam!" atau "hanya Allah yg tahu". Pernyataan tersebut bukan menjadi legitimasi kita untuk berhenti berpikir. Penyelidikan adalah alat berpikir yang kan nantinya menghapus rasa ragu. Seperti yang kita ketahui, dalam QS Al Baqarah ayat 2 pun jelas disebutkan bahwa kita dilarang untuk ragu.

Kesimpulannya, kebebasan berpikir adalah kewajiban bagi setiap muslim. Muslim yang berpikir bebas akan menemukan Tuhannya karena proses pencarian tersebut. Seperti yg kita ketahui, muslim sejati bukanlah muslim yang menjadi Islam karena faktor genealogi. Acuan bagi kebebasan berpikir adalah fakta empiris, hal rasional, dan tentunya wahyu. Seperti yg diungkap Al Ghazali bahwa acuan berpikir terdiri atas wahyu, akal, dan indra. Sedangkan, batas kebebasan pikiran bersifat sangat relatif. Bagi kita yg berpikir bebas, untuk mengetahui batasan berpikir, maka secara progressif kita perlu mencapai batasan tersebut. Terakhir, Natsir pernah menulis:

"Akal merdeka bisa memperkuat dan memperteguh iman kita, menambah khusyu' dan tawadhu' kita terhadap kebesaran Ilahi serta membantu kita mencari rahasia-rahasia firman Tuhan, menolong kita memahamkan hikmah-hikmah suruhan dan ajaran agama, mempertinggi dan memperhalus perasaan keagamaan kita."

Sumber:
- Alqur'anul Karim
- Ahmad Wahib. 1981. Pergolakan Pemikiran Islam. Jakarta: LP3ES Press.
- M. Natsir. 1961. Capita Selecta. Bandung: Sumur Bandung.
- Al Ghazali. ____. Kimiyatussa'adah. ____.
- Syarif Muharim. 2010. Menggapai Kembali Pemikiran Rasullullah SAW. Bima: Anonim Press.
- Artikel Nashruddin Syarief yg berjudul Epistemologi Islam. 2010.

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Sem…

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…