Skip to main content

Pendidikan Hari Ini (Antara Pendidik dan yang Didik)

Malam hari ini saya akan mencoba merefleksikan dan menuangkan sebuah tulisan coretan hasil dari refleksi dan kontemplasi beberapa jam di sebuah kamar usang tempat keseharian membaca buku yang sudah menjadi kebiasaan.

Seperti yang tertulis di bagian paling atas, sebuah judul tentang Pendidikan, saya mencoba memberikan sebuah pandangan yang mungkin masih subjektif atas realitas pendidikan hari ini, trkhusus menyoal peran kedudukan pendidik dan peserta didik. Saya coba paparkan secara umum terlebih dahulu mengenai makna pendidikan itu sendiri. Sebagaimana yang saya fahami bahwa pendidikan merupakan usaha penyebaran nilai-nilai kehidupan, sehingga pendidikan harus dapat memberikan kemampuan hidup dan menginterpretasikan dunia. Maka dari itu menurut Russel perlu diciptakan sistem pendidikan yang bebas dari represi.

Berangkat dari sebuah pemahaman tersebut, saya yakin dengan usaha demikian, pendidikan akan membantu manusia merealisasikan segala kemampuan yang ada dalam dirinya untuk menjadi pribadi mandiri. Tetapi untuk itu pula diperlukan sebuah metode pendidikan yang benar-benar mampu membuat manusia sadar sebagai subjek pelaku dalam perubahan. Lalu jika kita perhatikan, dewasa ini dalam dunia pendidikan kita masih ada yang berpandangan tradisional konservatif, dimana biasanya pandangan ini banyak mengatakan bahwa pendidikan harus berpusat pada pendidik. Paham yang meyakini demikian ini disebut perenialisme.

Menurut saya pandangan tentang Pendidikan semacam ini pada prakteknya cenderung bersifat otoriter, dan menghalangi kesadaran peserta didik untuk berkembang. Aktivitas pendidikan kemudian berbelok menjadi tindakan-tindakan menundukkan peserta didik. Lalu bagaimanakah seharusnya menempatkan antara pendidik dan peserta didik..?? Di bawah ini akan saya tuliskan berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Paulo Freire seorang pemikir pendidikan yang berada pada jalur kritis-progresif.

Dalam pandangannya, Freire mengatakan bahwa peserta didik bukanlah sebagai objek tersendiri yang harus digarap dan diisi. Namun harus diterima sebagai subjek yang dilengkapi kemampuan untuk merubah realitas yang dihadapinya ke arah yang lebih baik. Seperti yang dikatakan Freire bahwa pendidikan yang mengobjektifikasi peserta didik sama dengan memperbodohnya, sehingga tidak terjadi perkembangan kesadaran (Sutrisno, 1955: 22). Pendekatan pendidikan ini, menekankan pentingnya menanamkan keyakinan pada peserta didik bahwa pengetahuan bukanlah hasil pemberian dari pendidik saja, namun hasil keterlibatannya secara terus menerus dengan realitas yang di hadapinya.

Freire sangat menekankan aktifitas dan kreatifitas, yang mengharuskan partisipasi dalam metode pendidikannya. Metode Freire ini adalah metode yang aktif. Artinya mancakup refleksi dan aksi manusia tehadap dunia atau realitas disekelilingnya. Agar kemudian terwujud seperti apa yang di kemukakan oleh Freire maka dibutuhkan suatu lingkungan yang kondusif, dimana pendidik dan anak didik secara bersama-sama menghadapi realitas sebagai sebuah persoalan yang harus dihadapi secara bersama dan tidak bisa dilakukan secara terpisah. Disini ada hubungan yang dialogis antara pendidik dan peserta didik, maka secara otomatis dengan sendirinya peserta didik akan tumbuh harga diri, kepercayaan diri sendiri, dan rasa tanggungjawab dalam proses pendidikan yang sedang berlangsung.

Hari ini jika kita perhatikan dalam dunia pendidikan di Indonesia, mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, peserta didik hanya dijadikan sebagai objek, sebagai kolektor atau katalog pengetahuan saja, maka bisa dipastikan hal tersebut hanya akan menghasilkan manusia yang mudah disetir, kurang kreatif, paternalistik, dan anti dialog, serta kurang kritis. Seharusnya kondisi seperti ini tidaklah terjadi lagi dalam sistem pendidikan kita, harus ada sebuah frame pemahaman yang tidak hanya menjadikan peserta didik sebagai objek, melainkan juga sebagai subjek.

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…

Ikat Pinggang Tali Sepatu ( Shoelace Belt )

Selamat malam berroo.. Bay nde wei seumpama sampean lihat orang atau anak muda pakai ikat pinggang tali sepatu, apa yang anda pikirkan??
Mungkin banyak orang mengira mereka itu orang nggak jelas atau sempel mingkin. Jangan salah..
Mereka yang melakukan hal ini adalah kelompok skateboarder, alasan mereka melakukannya adalah bukan karena fashion, melainkan lebih sesuatu yang fungsional dan alasan yang rasional serta fungsi fashion.
Termasuk saya juga, bukan karena ingin dibilang anak skate atau hardcore Family. Saya pribadi penggila Iwan Fals dan Slank jadi sering menghadiri konser-konser mereka di luar kota. Pengalaman saya setiap memasuki area konser selalu dilakukan pemeriksaan, tak jarang ikat pinggang pun disita sementara. Nah dari pengalaman ini saya tidak sengaja lihat foto teman-teman di facebook menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang. Saya coba browsing ternyata subkultural ini memang sudah lama ada.
Mereka menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang lebih karena fakt…