Skip to main content

ISLAM DAN PERJUANGAN ANTIKAPITALISME : WAJAH PUCAT PASI KEAGAMAAN DI TENGAH ARUS PEMIKIRAN MODERN


Rasanya tidak berlebihan kalau saya menyebut Islam sebagai agama dan wacana yg paling progressif dibanding dengan agama dan wacana yg lainnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal seperti :

1. Banyaknya intelektualis Islam yg berusaha menempatkan Islam pada tafsir yg tepat sehingga tidak ketinggalan zaman,
2. Banyaknya pengkaji Al Qur'an dan Al Hadits yg membuka kembali pintu ijtihad agar Islam dapat menyesuaikan diri dengan zaman,
3. Politisasi Islam di negara dunia ketiga, dan
4. Banyaknya serangan kaum positivis vulgar terhadap relevansi Islam di masa sekarang.

Tidak seperti doktrin gereja abad kegelapan di Eropa yg sekali pukul oleh kaum filsuf yg tercerahkan langsung jatuh hingga terbenam. Munculnya Protestianisme sebagai negasi dari Katholik adalah sebagai penghibur tentang bagaimana doktrin gereja dipermalukan Galileo Galilei. Max Weber sendiri menilai Protestianisme adalah semangat Kapitalisme dalam gerakan keagamaan. Pernyataan Weber bersesuaian dengan kondisi ekonomi politik di masa itu - ketika kebanyakan proses produksi dipengaruhi oleh revolusi industri. Munculnya Protestianisme menghasilkan sintesa berupa relevansi Kristen terhadap masa Kapitalisme klasik. Sedangkan Islam tenggelam setelah revolusi industri dan menjadi budak dari kolonialisme klasik. Mengapa demikian? Apakah tidak ada negasi yg tepat dalam mempertahankan Islam?

Abad 19 hingga abad 20, mengikuti semangat Protestianisme di masa Rennaissance (yg belakangan ini pun mendapat banyak cercaan dari kaum rasionalis), Islam akhirnya memasuki ranah dialektika baru dengan munculnya semangat internasionalisme dan ukhuwah al Islamiyah. Kesadaran tersebut muncul karena beberapa hal diantaranya ialah dihapuskannya lembaga kekhalifahan oleh Mustafa Kemal Attaturk pada 1924, munculnya kesadaran Nasionalisme di tiap negara jajahan, dan adanya ilham perjuangan kelas akibat doktrin Komunisme. Islam mendapat wajah pembaharuan dengan tampilnya trio pembaharu yg sarat akan pemikiran politik yaitu Jamaluddin El Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Rasyid Ridha. Namun, munculnya mereka ternyata malah membawa Islam ke lembah kekolotan. Tipuan dalam selubung modernisasi dijalankan dengan harapan bahwa Islam akan kembali ke sistem lamanya - yaitu khalifah. Ini jelas suatu kemunduran dalam Islam, ketiganya menciptakan wajah pucat dalam masa depan Islam.

Lalu apakah Islam akhirnya gagal menyesuaikan diri di masa itu? Munculnya konsep perjuangan kelas mengilhami pemikiran Islam di masa itu. Tampilnya Tan Malaka di Indonesia, Gamal Abdul Nasser dan Dr. Faraq Fouda di Mesir, serta Muhammad Syahrur di Syria akhirnya mengubah wajah kekolotan Islam dan memperbaharui tiap selnya dengan pemikiran yg modernis. Jika semangat Protestianisme yg diilhami oleh Kapitalisme akhirnya takluk dibawah bendera revolusioner kaum buruh, Uskup Romero di Amerika Latin tampil sebagai pembawa dari Theologi Pembebasan yg berusaha memodernisasi ajaran Katholik, maka para pemikir Islam yg terbebas dari kungkungan Jamaluddin El Afghani seperti Muhammad Syahrur pada akhirnya berhasil memodernisasi Islam dalam wajah yg sesungguhnya. Kesesuaian tersebut didasari pada kolotnya pemikiran Kapitalistik dan Feodalistik yg telah mempengaruhi Islam selama berabad-abad.

Orang banyak menyebut modernisasi Islam sebagai sekularisasi. Agaknya kita perlu memahami pula secara singkat bahwa modernisasi pada dasarnya bukanlah mereduksi Islam, melainkan malah memperkaya Islam dengan bukti-bukti ilmiah serta kajian sosial yg pada akhirnya membawa keharusan pada umat muslim untuk merealisasikan praksis dari kedua hal tersebut. Modernisasi Islam adalah upaya yg dilakukan oleh kaum intelektual Islam untuk mempertahankan Islam sebagai agama yg kaffah dalam gempuran arus kaum rasionalis yg bersandar pada sains. Para intelektual pembaharu Islam berusaha untuk menyempurnakan Islam dengan menggunakan kajian saintis yg bersesuaian buktinya dengan Alqur'an dan Al Hadits. Orang Islam yg masih bertahan pada wajah kolotnya yg usang adalah orang "Islam Sontoloyo", begitulah Soekarno menyebutnya ketika ia menerangkan bagaimana seharusnya Islam di masa kini.

Islam di masa kini bukan lagi Islam sebagai agama kepribadian yg dianut bebas oleh tiap individu, Islam di masa kini sudah seharusnya menjadi suatu "civil society" (begitulah Rousseau menyebutnya dalam 'du Contract Social') yg bisa mengayomi masyarakat. Inilah yg disebut watak 'progressif' dalam Islam. Islam dimasa kini - seperti kata-kata Hasan Hanafi - ialah Islam yg membela kaum tertindas dan mengenyahkan pemikiran kolot Kapitalistik sehingga ia relevan dengan masa kini. Inilah sifat "civil society" dalam Islam. Sudah seharusnya Islam berdiri bersama kaum tertindas berperang dengan kaum modal dan menciptakan masyarakat tanpa kelas yg dikenal sebagai masyarakat Tauhidi seperti yg disebutkan dalam QS Al Mukminun ayat 52. Sedangkan relevansi dari QS Al Ma'idah ayat 3 yg menyebutkan bahwa agama Islam telah sempurna - menurut Muhammad Syahrur - ialah bahwa Islam dalam komponen dasarnya dalam menegasi keseluruhan tradisi Paganisme di Tanah Arab telah sempurna dan mampu diterapkan di seluruh dunia. Namun, tentang bagaimana ajaran Islam itu berkembang maka ia perlu pembaharuan secara terus menerus tanpa merubah komponen dasarnya. Inilah yg senyatanya disebut dengan modernisasi Islam.

Terakhir, saya perlu utarakan bahwa paradigma Islam yg modern merupakan Islam yg liberal merupakan pernyataan yg tidak mempunyai akar sama sekali. Islam yg liberal bahkan secara terang-terangan menelanjangi wajah Islam sehingga pemikiran Islam mereka yg sudah kolot (dan diselubungi dengan kata-kata modernisasi pula), telanjang bulat, dan mesum pula. Sehingga kita bisa mengatakan bahwa Islam liberal itu sebagai Islam yg bodoh karena terseret dalam arus positivis vulgar (kaum rasionalis - pen). Berbeda dengan modernisasi Islam, ia berwatak progressif dan tidak terseret arus positivis vulgar, malah menjadikan pemikiran positivis sebagai senjata untuk menghancurkan kaum rasionalis. Sudah seharusnya umat Islam bangkit dan meminum pil modernisasi untuk menyembuhkan wajah pusat pasinya demi masa depan yg lebih cerah lagi. Sudah seharusnya umat Islam tidak bersikap antipati terhadap perjuangan kaum tertindas, dan bahkan dengan antikapitalisme. Karena Islam yg sebenarnya hadir sebagai obat luka masyarakat yg telah diperas habis tenaga kerjanya oleh kaum modal. Toh, wajar jika shahabat Nabi SAW pada mulanya kebanyakan ialah kaum budak dan masyarakat miskin. Bahkan Abu Bakar, Umar, Usman, dan Abdurrahman Ibn Auf - shahabat Nabi SAW yg kaya raya - akhirnya menanggalkan jubah borjuasi mereka demi kesejahteraan saudara-saudaranya yg tertindas. Seperti halnya Abu Bakar menebus Bilal Bin Rabah dan Abdurrahman Bin Auf yg menyumbangkan seluruh harta kekayaannya untuk kesejahteraan sosial dan ia memilih berbaur dengan para pedagang Anshor di Madinah. Ini hanyalah sedikit dari banyaknya cerita yg mengilhami modernisasi Islam yg berwatak progressif.

Sudah seharusnya Islam bergerak menentang kekolotan seluruh pemikiran yg kapitalistik dan membuka lembaran baru. Reproduksi baru yg melahirkan pemikiran yg egalitarian serta progressif layaknya para shahabat Nabi SAW tersebut. Mari tegakkan al ukhuwal al Islamiyah dan berjihad menentang Kapitalisme. Akhirul kalam wassalam.

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Sem…

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…