Skip to main content

Keberpihakan Ilmu Sejarah dan Kebohongan Soal Keberimbangan dalam Penulisan Sejarah (Part 1)

==================================
Oleh : Alv

Sejarah mencatat bahwa sejarawan tidak pernah dalam posisi netral atau berimbang dalam penulisannya. Kebanyakan dari para filsuf sejarah dan sejarawan menuliskan sejarahnya tidak pernah lepas dari kepentingan kelas yg dibelanya. Hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa catatan sejarah yang muncul dari masa ke masa. Misalnya, catatan Perang Gaul dan kemenangan Julius Caesar di dalamnya, catatan tersebut ditulis oleh Julius Caesar sendiri untuk melegitimasikan kekuasaannya dalam Republik Romawi. Begitu juga dengan tampilnya St. Agustine yg menulis Civitate Dei, karyanya tersebut mempunyai fungsi terselubung, yaitu tentang bagaimana sejarah ditulis tidak lepas dari peran-peran hal gaib. Civitate Dei berusaha membuktikan bahwa penulisan sejarah versi gereja mempunyai kebenaran yg absolut karena gereja adalah wakil Tuhan di bumi. Tidak hanya itu, Herodotus - bapaknya para sejarawan - pun demikian dalam menuliskan kisah perang antara Yunani dengan Persia, dimana peran Dewa Ares ditampilkan sebagai legitimasi atas kemenangan Aristokrasi Yunani atas Imperium Persia.

Terlepas dari keberpihakan para filsuf sejarah dan sejarawan, ada beberapa dari mereka yang mencoba untuk menulis sejarah secara kritis dan berimbang, Leopold Von Ranke adalah pelopor utamanya. Ranke mengenalkan metode rekonstrusionisme dalam penulisan sejarah dimana ia berpijak pada pernyataan bahwa 'no document written, no history'. Metode kritis tersebut bukanlah pemikiran orisinil dari Ranke, tapi dari dua gurunya, yaitu Hegel dan Fichte. Ranke menggunakan metode dialektika dalam penggunaan kritik atas sumber-sumber sejarah. Dalam hal tersebut, Ranke sudah bisa disebut filsuf sejarah yang berkemajuan. Tapi sayangnya, pandangannya yang abstrak mengenai konsep pengenalan ide-ide ketuhanan melalui perjalanan sejarah membuatnya tidak progresif. Selain itu, keberpihakan Ranke terhadap politik Bismarck (terlihat dari dukungannya membentuk pemerintahan jalan tengah dan antusiasme-nya dalam menulis sejarah politik) membuat Hegelianisme Ranke sangat tampak.

Mazhab Historisme Klasik yang dipelopori Ranke pada akhirnya menuai kritik keras karena watak keberpihakannya yang cenderung kepada kekuasaan politik. Sampai disini, Ranke yang dituding kritis oleh para pengikutnya ternyata berpihak pada sejarah yang ditulis oleh para pemenang. Kritik tidak hanya berhenti sampai disitu, mazhab Annales yg lahir dari pemikiran Marc Bloch mengkritik bahwa Historisme pada akhirnya tidak memberikan perhatian besar pada peristiwa sejarah yang digerakkan oleh rakyat. Marc Bloch menawarkan metode analisa Total History, dimana suatu peristiwa sejarah harus diteliti dari segala sudut pandang sehingga melahirkan kesimpulan yang objektif. Tetapi lagi-lagi Bloch membuktikan bahwa sejarawan tidak bisa netral, Annales dengan pendekatannya kepada ilmu-ilmu sosial dan budaya memihak kepada rakyat. Hal tersebut juga dilihat dari kecenderungan Annales dalam meruntuhkan narasi-narasi heroik Nasionalisme Perancis dan Jerman dan keberpihakan mereka pada kaum tani (keberpihakan tersebut dapat dilihat dalam karya-karya Bloch dan Braudel).

Seperti halnya Historisme klasik, Annales juga tidak terlepas dari kritik dan kebanyakan kritik datang dari kaum Post-Strukturalisme dimana mereka menyatakan bahwa dalam menulis sejarah, mazhab Annales terlalu sering menggeneralisir sebab-sebab peristiwa sejarah dan kurang memperhatikan subjek-subjek kecil seperti peran individu dan komunitas di dalam peristiwa sejarah. Kaum Post-Strukturalisme pada akhirnya melahirkan wacana mikrohistori dimana penulisan sejarah harus lebih mengutamakan peran-peran sub-altern di dalamnya.

Istilah Sub-altern pertama kali diperkenalkan oleh Gramsci dalam karyanya 'The Prisoner Book' sebagai kelas yang termarjinalkan dan tidak punya akses ke kaum elite. Istilah tersebut kemudian dikembangkan kaum Postmodernisme yang konsen dalam ilmu sejarah (misalnya: Foucault) dalam menganalisa suatu peristiwa sejarah. Namun, ada kritik yang mendasar dalam mikrohistori yg memakai wacana sub-altern yaitu soal bagaimana melihat sebab-sebab dari terjadinya peristiwa yg hanya sampai kepada kuasa-kuasa yg mempengaruhinya (hal ini sangat dipengaruhi oleh teori kajian budaya, teori hegemoni, dan relasi kuasa) tanpa melihat sebab khusus dibalik tirai kuasa tersebut. Mikrohistori sendiri menuntun kita kepada kesimpulan-kesimpulan permukaan saja, tidak sampai kepada kesimpulan yang mendalam.

(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…

Ikat Pinggang Tali Sepatu ( Shoelace Belt )

Selamat malam berroo.. Bay nde wei seumpama sampean lihat orang atau anak muda pakai ikat pinggang tali sepatu, apa yang anda pikirkan??
Mungkin banyak orang mengira mereka itu orang nggak jelas atau sempel mingkin. Jangan salah..
Mereka yang melakukan hal ini adalah kelompok skateboarder, alasan mereka melakukannya adalah bukan karena fashion, melainkan lebih sesuatu yang fungsional dan alasan yang rasional serta fungsi fashion.
Termasuk saya juga, bukan karena ingin dibilang anak skate atau hardcore Family. Saya pribadi penggila Iwan Fals dan Slank jadi sering menghadiri konser-konser mereka di luar kota. Pengalaman saya setiap memasuki area konser selalu dilakukan pemeriksaan, tak jarang ikat pinggang pun disita sementara. Nah dari pengalaman ini saya tidak sengaja lihat foto teman-teman di facebook menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang. Saya coba browsing ternyata subkultural ini memang sudah lama ada.
Mereka menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang lebih karena fakt…