Skip to main content

Keberpihakan Ilmu Sejarah dan Kebohongan Soal Keberimbangan dalam Penulisan Sejarah (Part 3)

==================================
Oleh Alv

Tetapi ada sisi positif yg dapat kita gali dalam analisa Materialisme Historis, yaitu adanya keberpihakan terhadap kelas-kelas yg tertindas dalam penulisan sejarah. Karya Marx yg berjudul 'Brumaire XVIII Louis Bonaparte' memperlihatkan heroisme rakyat Perancis dalam menentang rezim Bonapartisme. Begitu juga dengan karya Trotsky yg berjudul 'The October Revolution' yg berangkat dari pergerakan massif kelas pekerja dalam merebut kekuasaan pada 1917 di Rusia. Keberpihakan ini jelas meruntuhkan persepsi Rankean dan Weberian yg melihat gerak sejarah ditentukan oleh individu-individu pelopor. Seperti kata Marx yg menyebutkan bahwa sejarawan proletar sifatnya seperti Prometheus yg menjatuhkan kekuasaan dewa-dewi dari langit. Berangkat juga dari pendapat Marx bahwa gerak sejarah bukanlah takdir Tuhan, aktornya adalah manusia, namun manusia tidak bisa lepas dari gerak tersebut.

Melihat perspektif-perspektif dari mazhab-mazhab ilmu sejarah yg ada, kita dengan terang membuktikan bahwa penulisan sejarah tidak pernah ada dalam posisi yg netral. Kita tidak boleh lupa bahwa perkataan Ranke yg menyebutkan bahwa sejarah harus ditulis sesuai dengan faktanya memang terkesan objektif. Namun pendekatan kritis terhadap objek-objek sejarah yg ada membuat Ranke tergelincir dalam kesimpulan-kesimpulan yg sangat nasionalis sifatnya. Sifat ini juga ditiru oleh sejarawan-sejarawan proyek dimana mereka menulis sejarah dengan berpihak pada kelas yg berkuasa. Lihat misalnya penulisan Sejarah Nasional Indonesia Jilid Keenam yg memuat kesimpulan soal G30S. Kesimpulan yg dibuat oleh Sartono, dkk tersebut pada akhirnya dapat diselidiki keberpihakannya pada kelas yg membayarnya untuk menulis hal tersebut. Tidak akan ada G30S/PKI tanpa ada Soeharto yg memintanya untuk membentuk struktur antonim tersebut.

Pengucilan gerakan-gerakan rakyat juga terjadi dalam penulisan sejarah, misalnya hilangnya peran PKI dalam memerdekakan Indonesia dan distorsi atas makna-makna seperti makna "Komunisme" sehingga masyarakat mampu dikondisikan untuk bodoh dalam memahami sejarah. Kita dapat membandingkan kesimpulan yg dibuat Sartono, dkk dengan kesimpulan dari Asvi Warman Adam, Suar Suroso, dan John Roosa misalnya. Analisa Benedict Anderson yg berpihak pada kelas yg tertindas juga dapat dipertimbangkan kesimpulannya sebagai kesimpulan yg real. Mengapa demikian? Kita tidak akan pernah lupa bahwa pijakan realitas dan kritik atas gerak masyarakat terkadang lebih diperlukan daripada netralitas fakta yg ada.

Seperti kata Dante dalam Divine Comedy, bahwa "tempat di neraka yg paling gelap disediakan untuk siapapun yg bersikap netral saat krisis moralitas."

Terima kasih

(End)

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Sem…

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…