Skip to main content

KITA DAN STIGMA

Bulan depan (Maret 2017), Bung dan Nona yang mengalami masa kecil indah bersama film-film animasi produksi Disney sudah bisa menyaksikan si alumnus Hogwarts, Emma Watson berperan sebagai Belle dalam film terbarunya Beauty and The Beast versi live action. Original soundtrack untuk film ini pun sudah dirilis dan video klipnya tinggal menunggu waktu saja.

Ariana Grande dan John Legend dipilih untuk menyanyikan kembali lagu yang dulu dibawakan oleh Celine Dion dan Peabo Bryson tersebut. Tapi bagi saya yang paling menarik dari film ini bukan soal ketenaran para pemerannya atau lagu pengiring filmnya yang enak didengar. Bagi saya yang menarik adalah cerita dari film ini sendiri. Ya, film ini adalah film tentang stigma.

Kadang tanpa kita sadari, kita sering menjepit dan menjerat orang atau kelompok lain dengan kata, label, atau cap. Kemudian kita masukan mereka dalam kotak stigma, yang menurut kita memang cocok untuk mereka. Stigma sendiri pada mulanya adalah istilah yang digunakan oleh bangsa Yunani kuno untuk menyebut semacam tanda yang diberikan dengan cara memberi luka bakar pada atau tato ke kulit seorang budak, kriminal, pemberontak, dan orang-orang yang mereka anggap pantas menerima tanda tersebut.

Sekarang, stigma tidak diberikan dengan cara mencap besi panas. Ia diberikan lewat jepit dan jerat kata. Tentu ada yang tak berubah, stigma selalu bermakna tidak baik.

Tapi apakah stigma adalah sebuah kebenaran mutlak? Apakah orang dengan label A pasti berkelakuan B? Sejarah membuktikan bahwa stigma sering kali tak sesuai dengan kenyataan.

Tepat sembilan puluh tahun lalu pada tahun 1927, di ibukota Belgia, Brussels, diadakan sebuah pertemuan besar semacam konferensi liga internasional anti imperialisme. Dalam pertemuan tersebut Indonesia diwakili oleh Hatta, India diwakili oleh Pandit Jawarharlal Nehru, Senegal diwakili oleh Leopold Sengor, Vietnam diwakili oleh Ho Chi Minh, dan perwakilan lain dari seluruh dunia.

Dalam pertemuan itu para peserta juga memilih seorang ilmuwan sebagai presiden kehormatan untuk liga internasional tersebut, menariknya bukan ilmuwan yang terpilih bukan seorang ilmuwan di bidang ilmu politik. Para peserta sidang memilih seorang fisikawan sebagai presiden kehormatan mereka.

Nama fisikawan itu adalah Albert Einstein. Nalar stigmatik kita tentu menolak, bagaimana bisa Einstein yang seorang fisikawan teoritis itu ikut sebuh pertemuan politik besar untuk menentang imperialisme dan malah terpilih sebagai presiden kehormatan pertemuan tersebut? Bukankah seharusnya menurut nalar stigmatik kita seorang fisikawan harusnya apolitis dan menghabiskan waktunya untuk penelitian saja?.

Semaun yang menemani Hatta dalam pertemuan tersebut pun tak kalah mengejutkan. Bisa dibilang dia adalah anomali dalam periode yang disebut oleh Takashi Shiraishi sebagai Zaman Bergerak. Ketika aktivis-aktivis politik lain di zaman tersebut seperti Tjokroaminoto, Agus Salim, Mas Marco Kartodikromo, Suwardi Suryaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Muhammad Misbach lahir dari kalangan priyayi, kelas menengah, atau santri kaya, Semaun lahir sebagai seorang anak buruh kereta api.

Dia seakan menghapus kesan bahwa hanya orang kelas menengah ke atas lah yang bisa memiliki kesadaran politik. Yang lebih mengejutkan adalah Semaun pada usia 14 tahun sudah menjadi sekretaris dan pada usia 18 tahun dia menjadi ketua Sarekat Islam cabang Semarang. Nalar stigmatik kita tentu sulit menerima, bukankah pemimpin itu haruslah yang lebih senior karena yang lebih senior pasti lebih baik? Tapi Semaun menghancurkan semua prasangka itu.

Di Yogyakarta tepatnya di Bulaksumur kisah tentang gagalnya stigma mengambarkan realita pun berlanjut. Kuntowijoyo, seorang guru besar Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya UGM paling tidak meremukan dua stigma.

Pertama, dari kumpulan gagasan keilmuan yang Pak Kunto sebarkan, kita bisa menemukan bahwa ada unsur keteguhan sikap beragama seorang muslim, tetapi juga semangat kemerdekaan berpikir yang terus berkobar.

Nalar stigmatik kita tentu bergejolak, bukankah keteguhan beragama tidak akan bisa berjodoh dengan kemerdekaan berpikir? Nyatanya stigma itu tak ada artinya bagi Pak Kunto.

Kedua, Pak Kunto mendamaikan dua kegiatan yang selama ini seolah-olah dianggap saling menegasikan yaitu kegiatan beliau menulis ilmiah sebagai seorang intelektual-akademisi dan kegiatan beliau menulis sastra sebagai seorang sastrawan.

Nalar stigmatik kita kemudian berontak, bukankah seharusnya dunia intelektual-akademisi yang berlandaskan rasio dan fakta empiris berlawanan dengan dunia sastra yang mensyaratkan imajinasi tingkat tinggi? Lagi-lagi Pak Kunto membuat sebuah stigma hancur lebur.

Dua kolega Pak Kunto sesama akademisi di Universitas Gadjah Mada juga melakukan hal yang sama: menjebol kotak stigma. Yang pertama adalah Prof. Teuku Jacob seorang dokter lulusan FK UGM yang kemudian menjadi guru besar di bidang Antropologi ragawi dan dikenal sebagai bapak Paleoantropologi Indonesia.

Kemudian bersama pak Yahya Muhaimin beliau merintis berdirinya Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian di UGM. Nalar stigmatik kita lagi-lagi terusik, bukankah seharusnya seorang akademisi itu fokus pada satu disiplin ilmu saja? Tapi semangat mau belajar berbagai bidang ilmu dari Prof. Teuku Jacob membuat stigma itu seperti tak ada artinya.

Kolega Pak Kunto berikutnya adalah The Liang Gie. Beliau adalah alumnus Fakultas Sosial dan Politik (Fisipol), Universitas Gadjah Mada. Lahir pada tahun 1932 di Yogyakarta dan lulus dari Fisipol UGM pada tahun 1956. Beliau kemudian dikenal sebagai seorang penulis yang sangat produktif.

Paling tidak beliau telah menulis 50 buku dalam berbagai bidang ilmu dan filsafat, serta 200 lebih karangan tentang aneka pengetahuan sampai tahun 1999.

Yang menarik adalah salah satu judul bukunya yang terbit pada tahun 1981 berjudul Filsafat Matematika. Nalar stigmatik kita pasti sulit menerima, bukankah seharusnya seorang alumnus Fisipol itu alergi dengan angka dan statistika serta tidak bisa bernalar dalam bidang matematika? Tapi bagi The Liang Gie stigma itu hanya angin lalu.

Di Palestina kita pun bisa melihat stigma tak benar-benar nyata. Nalar stigmatik kita dibuat kacau dengan kemunculan tokoh-tokoh seperti George Habash, Hanan Ashrawi, Emil Ghuri, Raymonda Tawil Hawa, Khalil Al-Sakakini, Wadie Haddad, Kamal Nasser, dan para pejuang kemerdekaan Palestina lainnya yang beragama Kristen.

Bukankah nalar stigmatik kita mengatakan bahwa seharusnya apa yang berjuang untuk kemerdekaan Palestina itu orang Islam saja? Khusus George Habash dia benar-benar menjungkirbalikan nalar stigmatik kita. Ya, dia Kristen, Marxis, dan berjuang untuk kemerdekaan Palestina.

Barangkali karena sering berlawanan dengan kenyataan, stigma pantas dilawan. Itulah yang dilakukan Shalahudin Yusuf Al Ayyubi yang membuktikan bahwa dirinya yang berasal dari Kurdi sama baiknya dengan orang Arab dalam memimpin pasukan muslim. Itulah yang dilakukan Soe Hok Gie yang membuktikan anggapan bahwa semua keturunan Tionghoa itu hanya pandai berdagang dan peduli kelompoknya sendiri adalah salah besar.

Itulah yang dilakukan Hans Wospakrik, seorang guru besar ITB asal Papua, yang membuktikan bahwa orang Papua bisa sama cerdasnya dengan orang Indonesia lainnya. Itulah yang dilakukan Brian May gitaris Queen yang membuktikan bahwa musisi pun bisa menjadi doktor Astrofisika. Dan Itulah yang dilakukan banyak orang lainnya di seluruh penjuru dunia.

Kita patut ingat bahwa dalam stigma terkandung racun berbahaya yang bisa melumpuhkan akal sehat kita. Nalar stigmatik membuat kita bisa jadi lebih buruk dari tokoh si buruk rupa dalam film yang saya bahas di awal karena selalu menganggap diri dan kelompok kita lebih baik dari yang lain.

Dan seperti si buruk rupa yang bisa membuktikan bahwa ketidakbagusan fisiknya jauh lebih kecil dari cinta kasihnya kepada sesama, kita pun bisa melawan segala stigma.

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Sem…

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Sebait Puisi Pembuka Konser Suara Untuk Negri Cimahi Bandung

Konser Iwan Fals yang bertajuk Konser Suara Untuk Negri yang diselenggarakan di  Cimahi Bandung bersama Jamrud dan Gigi memang banyak melahirkan inspirasi dan juga semangat buat saya pribadi yang memang mengidolakan Bang Iwan sejak kelas 4 SD. Ada yang menarik di Konser kali ini, Bang Iwan membuka konser dengan sebait puisi yang entah siapa yang menciptakan, saya sendiri kurang tau, yang pasti suara khas Iwan Fals membuat suasana semakin hening.Pada alam yang indah
Pada langit yang mempesona
Kau tunjukkan wajah-Mu
Dengan begitu Kau ajarkan keindahan
Dan rasa syukurKemarin Kau luapkan air bah
Kau muntahkan perut bumi
Kau sebarkan debu
Sesungguhnya Kau tengah mengajarkan cinta
Agar ada rasa kasih walau tak saling kenal
Dan kini untuk alasan yang sama kita bersama
Bersatu atas nama cintaKalimat demi kalimat dalam puisi tersebut sangat menginspirasi, mengajarkan kita untuk tetap bersyukur disela cobaan dan kesedihan yang kita hadapi.
Mengajarkan kita untuk berpikir positif, dan yakin dibalik semua…