Skip to main content

Makna dan Kata Bersama Histori Manusia

Kita tidak hanya pandai merangkai kata sehingga bisa menghipnotis massa. Kita bahkan sanggup menghancurkan maknanya sehingga kita tertawa. Yang merangkai kan menangis karena karyanya di olok dan yang menghancurkan pura-pura bersiul seolah-olah tak tahu apa yg terjadi. Sedangkan kata, hanya diam saja dilecehkan oleh kritikus yang menciptakannya dalam tiap lembaran tanpa bertanggung jawab. Makna menangis karena dirinya tak lagi dimengerti kasihnya oleh karya. Realisme melecehkan Surealisme dan Rasionalitas mendobrak esensi kalam.

Sepanjang mereka berpetualang, kata diciptakan manusia sejak ratusan ribu tahun yang lalu. Ketika tangan manusia terbebaskan - seperti kata Montaigne - kata pun diciptakan untuk mengadakan Tuhan. Tuhan lalu meng'ada' tuk menakuti tiap langkah manusia yang menciptakannya. Makna yg terangkum dalam lauhil mahfudz lalu turun untuk menenangkan kepanikan. Kabarnya ia dibawa oleh Jibril ke gua Hira di pinggiran Mekkah. Kabarnya ia jatuh pula diatas bukit Tursina dan tenggelam dalam danau Galilea. Manusia semakin paham, betapa sakralnya kata sehingga ia mengandung makna yang relatif sesuai zeitgeistnya.

Ah, Tuhan benar meng'ada' dan ia berupa esensi yang kemudian tak lagi terpahami manusia. faktanya, kata maupun makna tak sanggup menjelaskan rupaNya dan manusia yg sombong tenggelam dalam persatuan denganNya. Makna mulai tidak berguna dalam kata ketika manusia merenggutnya melalui kalam.

Dalam sejarah manusia, kritikus bermunculan dengan topeng sastrawan dan mereka menelanjangi kata demi menyerang kealiman manusia. Buktinya ialah bobroknya moral Umayyah dan Reformasi Gereja. Buktinya ada di Inggris sejak mesin mengambil alih dan di Jerman sejak Feuerbach mencaci Hegel. Kata menjadi semakin telanjang dan tidak bermoral, sedangkan makna perlahan diangkat oleh Tuhan ke langit karena manusia sudah tidak mempedulikannya.

Manusia yang ciptakan Tuhan, manusia pula yg membunuhnya sejak Nietzche berkhotbah dan Sartre berkumandang. Namun Tuhan tertawa karena rupaNya yg asli masih nongkrong di Arsy. Kata yang sudah telanjang tak mampu lagi mendeskripsikan dan makna yang agung tinggal sedikit di bumi. Kealiman perlahan diangkat makna dan meninggalkan kesan bahwa kiamat kan tiba. Ini semua akibat ulah kritikus yg menelanjangi kata.

Kata yang tak mengerti apa-apa hanya bengong di tiap tumpukan buku dan makna menangis karena manusia sia-sia menulis. Tuhan tertawa hingga mengguncangkan semesta. hamalatul Arsy mempertahankan Arsy yg bergoyang karena tertawaanNya. Manusia tertawa meludahi keagunganNya. Dan hingga Komunisme tiba, maka hilanglah transendensi kata-kata karena telah ilmiah kata mereka. Esok hari ketika bumi gelap 3 hari, manusia panik.

Mereka berusaha mencari kemana makna pergi. Tetapi terlambat sudah, karena makna yang menangis telah tenang di surga bersama para alim ulama. Matahari esok hari terbit dari barat. Menyinari peradaban yang menghancurkan dirinya sendiri. Timur kan gelap dan kita kan digiring menuju Damaskus. Dabbah kan bermunculan dan dajjal kan terbunuh. Kata-kata yang menjadi korban hilang eksistensinya dan esensinya menguap, menyatu bersama Tuhan. Big crunch, begitulah ilmuwan menyebutnya. Singularitas menjadi akhir dari segalanya.

Pertanyaan terbesarnya, apakah lusa kan ada lagi kata maaf untuk manusia hingga ia mengulang dirinya menjadi entitas yang lebih sempurna? Hanya Tuhan yang di celanya yang mengerti soal bagaimana hukum fisika kan tercipta kembali.

Wassalam

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Sem…

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…