Skip to main content

Pemilu : Ajang Bersatu atau Beradu?

Saya yakin, kawan-kawan disini masih ingat ketika bangsa ini terpecah menjadi 2 golongan di tahun 2014 lalu, tepatnya di perhelatan Pemilu Presiden. Perpecahan itupun masih terasa bahkan hingga lebih dari setahun diselenggarakannya pemilu tersebut yang bisa kita "saksikan" di media massa.

Hari ini, kembali kita rasakan pemilihan umum daerah serentak di 101 daerah di Indonesia. Salah satunya di DKI Jakarta. Banyak yang merasa Pemilukada di DKI Ini seperti Pemilu Presiden. Disamping itu, 3 tokoh politik yang sangat kuat, sedang berdiri tegak dibalik 3 calon gubernur DKI Jakarta ini. 2 diantaranya mungkin akan kembali terjun dalam pilpres 2019 mendatang. Kegaduhan politik yang terjadi saat ini, dirasakan oleh seluruh masyarakat, khususnya di pulau jawa. Dan ini cenderung memecah masyarakat (kembali) menjadi 3 golongan.

Pada hakikatnya, tujuan dari diselenggarakannya pemilu adalah untuk menilai, memahami, dan memilih satu dari beberapa calon pemimpin yang dinilai layak untuk memimpin suatu daerah dalam masa periode tertentu. Tetapi, hari ini kita saksikan pemilu yang terjadi memecah belah kesatuan bangsa. Iming-iming jabatan, para elit partai dinilai memakai cara apapun agar pasangan yang diusungnya bisa memenangkan pemilu dan menjadi orang nomor 1 di daerahnya. Hal ini yang menjadi perhatian penuh bagi seluruh masyarakat Indonesia, apakah seperti ini wajah pesta demokrasi di dalam Negeri ini ? Jika kita simak sama sama di beberapa media, jual-beli serangan dilakukan oleh sekelompok pendukung paslon tertentu untuk menarik hati masyarakat agar mau memilih paslon yang diusungnya.

Saya rasa, banyak rakyat yang sudah mulai selektif mengenai hal ini. Tahu mana paslon yang pro rakyat dan pro golongan. Rakyat pun seharusnya mampu berfikir lebih jauh untuk mengutamakan kesatuan bangsa diatas segalanya. Mementingkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi. Karena, pesta rakyat adalah sebuah kesenangan bagi rakyat, yang berujung pada terpilihnya pemimpin yang mampu melihat, mendengar, memahami, dan merealisasikan apa keinginan rakyatnya. Dan yang perlu diingat bahwa pemilu ini adalah panggung perSATUan bukan perADUan. Karna tetap rakyatlah yang akan menjadi juaranya!

Hidup Rakyat Indonesia !

#VokasiBicara #SuaraMahasiswa
________________________________________________

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…

Ikat Pinggang Tali Sepatu ( Shoelace Belt )

Selamat malam berroo.. Bay nde wei seumpama sampean lihat orang atau anak muda pakai ikat pinggang tali sepatu, apa yang anda pikirkan??
Mungkin banyak orang mengira mereka itu orang nggak jelas atau sempel mingkin. Jangan salah..
Mereka yang melakukan hal ini adalah kelompok skateboarder, alasan mereka melakukannya adalah bukan karena fashion, melainkan lebih sesuatu yang fungsional dan alasan yang rasional serta fungsi fashion.
Termasuk saya juga, bukan karena ingin dibilang anak skate atau hardcore Family. Saya pribadi penggila Iwan Fals dan Slank jadi sering menghadiri konser-konser mereka di luar kota. Pengalaman saya setiap memasuki area konser selalu dilakukan pemeriksaan, tak jarang ikat pinggang pun disita sementara. Nah dari pengalaman ini saya tidak sengaja lihat foto teman-teman di facebook menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang. Saya coba browsing ternyata subkultural ini memang sudah lama ada.
Mereka menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang lebih karena fakt…