Skip to main content

Keterasingan: Cara untuk Berkarya

Ada sebuah lagu yang mengingatkan kita pada suatu kebosanan hidup yang itu-itu saja. Keteraturan yang dipahami sebagai jalur kenyamanan pada akhirnya runtuh karena kebosanan tersebut. Lagu tersebut adalah lagu 'Statis' karya band Plastik. ada beberapa kalimat yang menarik kita perhatikan, seperti 4 baris pertama lagu tersebut, yaitu:

"Terbangun di pagi ini, jalani hari seperti kemarin
Tak pernah ada yang menyenangkan
Lewati hari percuma, lewati seribu tanda tanya
Seakan hanya berhenti disini"

Dari kalimat tersebut kita menemukan suatu makna bahwa kehidupan yang statis seperti yang dijalani banyak orang sangat tidak bermakna. Mengapa demikian? Hal tersebut terjadi karena bagi saya, pemaknaan suatu hidup itu muncul ketika kita keluar dari batas kenyamanan kita dan mulai bertanya-tanya, 'untuk apa ada kehidupan?'. Yaps, pemaknaan hidup muncul dari adanya keraguan dan pertanyaan kita soal apa yang kita lakukan di dunia. Permasalahannya, banyak orang yang tidak mau atau bahkan takut untuk meragu dan bertanya untuk apa kita ada di dunia.

Ketakutan tersebut muncul karena ketika kita mempraktikkan hal yang kita pertanyakan demi mencari jawabannya, kita sudah keluar dari jalur kenyamanan kita. Lalu apa yang terjadi bila kita keluar dari batas kenyamanan kita? Tentunya, kita akan menjalani hidup yang penuh warna. Kita akan memahami bahwa hidup bukanlah untuk dijalani begitu saja, namun hidup juga untuk berkarya.

Selain keluar dari jalur kenyamanan kita, siapa yang mempraktikkan apa yang kita pertanyakan juga menghadapi persoalan lain, yaitu terasingnya kita dari kebanyakan orang. Berkaitan dengan hal tersebut, Kurt D. Cobain pernah berkata bahwa, "Mereka menertawakanku karena aku berbeda, namun aku menertawakan mereka karena mereka sama". Pernyataan Cobain tersebut pada akhirnya menjadi kata-kata penghibur bagi orang-orang yang terasing dari orang kebanyakan. Toh, keterasingan ada bukan untuk ditakuti, namun untuk dinikmati.

Kita juga perlu memahami bahwa orang yang mempraktikkan pertanyaannya dan mencoba keluar dari jalur statisnya kehidupan adalah calon orang-orang besar. Coba lihat Karl Marx yang berbeda dari kebanyakan sosialis lainnya, bahkan dia banyak musuhnya karena kritik-kritiknya yang pedas. Bahkan saat Karl Marx meninggal pun, yang melayat hanya sekitar 6-8 orang. Keterasingan tersebut adalah lumrah bagi orang-orang besar karena pada kenyataannya perubahan sendiri datang dari orang-orang yang terasing.

Coba lihat Nabi Muhammad SAW yang muncul membawa sesuatu yang baru dan asing, ia merubah pola sikap, tindak, dan pikir masyarakat pada kala itu dengan keluar dari jalur kenyamanan. Dan faktanya, keterasingan tersebut lahir dari keragu-raguan dan mempraktikan apa yang dipertanyakan Muhammad SAW, yaitu 'apakah Islam itu memang benar adanya?'.

Kembali kepada lagu Statis, ada kalimat yang unik dalam verse keduanya, yaitu:

"Terjebak di dalam kemacetan, bercampur kecewa sejuta manusia
Akankah ada yang bisa menjawab?
Dipaksa kebutuhan, rencana serasa menyiksa
Bisakah bencana ini berakhir?"

Kalimat-kalimat dalam lagu tersebut menggambarkan keinginan untuk keluar dari jalur kenyamanan, namun orang tersebut pada akhirnya terjebak dalam situasi dan kondisi yang dipaksakan. Maksudnya ialah, ada banyak pegawai di Jakarta yang menjalani rutinitas mereka sehari-hari dengan bekerja mulai dari pukul 8 pagi hingga pukul 4 sore, ada beberapa dari mereka yang pada akhirnya bosan dengan rutinitas seperti itu dan mempunyai rencana untuk melampauinya. Namun, paksaan kebutuhan akan hal-hal dasar - seperti sandang, pangan, dan papan - pada akhirnya membuat rencana tersebut hanya menjadi wacana.

Bahkan di verse ketiga lagu tersebut menggambarkan tersiksanya rencana untuk berubah tersebut karena ia harus siap terasing karena hal tersebut.

"Mencoba merubah hari, mencari-cari jalan yang lain
Ternyata kembali lagi disini
Apakah arah percuma ada di mimpi, tak pernah ada dalam kenyataan
Nyatanya tak pernah aku jumpai"

Namun, jika kita mampu untuk keluar dari jalur kenyamanan demi sebuah karya agar hidup tidak sia-sia, kita tidak akan kecewa terhadap hasilnya. Seperti kata pepatah, bahwa hasil tidak pernah mengkhianati proses. Pertanyaannya, apakah kita siap untuk berkarya dengan keluar dari jalur kenyamanan kita? Artinya, kita mesti revolusionerkan diri kita dan membunuh sikap kita yang lama demi suatu perubahan besar.

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…

Ikat Pinggang Tali Sepatu ( Shoelace Belt )

Selamat malam berroo.. Bay nde wei seumpama sampean lihat orang atau anak muda pakai ikat pinggang tali sepatu, apa yang anda pikirkan??
Mungkin banyak orang mengira mereka itu orang nggak jelas atau sempel mingkin. Jangan salah..
Mereka yang melakukan hal ini adalah kelompok skateboarder, alasan mereka melakukannya adalah bukan karena fashion, melainkan lebih sesuatu yang fungsional dan alasan yang rasional serta fungsi fashion.
Termasuk saya juga, bukan karena ingin dibilang anak skate atau hardcore Family. Saya pribadi penggila Iwan Fals dan Slank jadi sering menghadiri konser-konser mereka di luar kota. Pengalaman saya setiap memasuki area konser selalu dilakukan pemeriksaan, tak jarang ikat pinggang pun disita sementara. Nah dari pengalaman ini saya tidak sengaja lihat foto teman-teman di facebook menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang. Saya coba browsing ternyata subkultural ini memang sudah lama ada.
Mereka menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang lebih karena fakt…