Skip to main content

Apakah akhirat itu ada?

Bagi kaum spiritual tentu mengimani keberadaan akhirat sebaliknya bagi kaum non-spiritual mereka mengimani ketidakberadaan akhirat.
Kaum seperitual kecenderungannya dogmatis, mengimani perkara yang belum terbukti diranah sains.
Kaum non-sepiritual kecenderungannya empiris, mengimani perkara yang hanya setelah terbukti diranah sains.

Tenyata keduanya sama-sama punya kecenderungan metode berfikir yang berat sebelah yang satu dogmatis yang satu empiris. Padahal belum tentu bahwa kaum spiritual selalu dogmatis, banyak juga kaum spiritual yang rasional dengan tetap berpijak kepada sains. Adalah hak setiap orang untuk mengimani laku kehidupannya baik yang menempuh jalan spiritual maupun non-spiritual.

Beberapa waktu lampau saya bertemu dengan teman lama. Dia terlahir pada sebuah keluarga yang bisa dikatakan khusyu'. Seorang aktivis muda, dia juga merupakan salah seorang cendekiawan kaum Intelektual muda NU, saat ini dia sedang menempuh study di Turki.
Karena lama tak jumpa kami ngobrol banyak hal, kami memilih salah satu kedai kopi di belakang terminal Bojonegoro. Ngobrol banyak hal ngalor ngidul, dari urusan utang sampe urusan pacar, dari urusan situasi lokal hingga situasi Internasional dan pada ujungnya setelah lebih dari 3jam ngobrol sampai juga pada obrolan urusan Akhirat.

Saya paham kawan lama ini punya basic pengetahuan agama dan keilmuan sekaligus orangnya open minded, karena pertimbangan itu saya berani mengajukan pertanyaan rasional mengenai perihal Akhirat, sebagai statement pembuka, "anggaplah akhirat itu ada" jadi apabila ada keimanan yang meyakini bahwa akhirat itu tidak ada maka tak perlu dilanjutkan dalam membaca tulisan ini, catatan berikutnya hanya akan nyambung bagi mereka yang meyakini bahwa Akhirat itu ada.

Pertama, akhirat itu tidak ada, setidaknya untuk saat ini. Dasar argumennya bahwa yang dinamakan Yaumul Mahsyar hanya akan lahir pasca Kiamat Dunia telah terjadi. Dan sampai catatan ini ditulis setidaknya kita sama-sama tahu bahwa bumi masih eksis atau kiamat dunia belum terjadi yang bermakna bahwa Yaumul Mahsyar belumlah diciptakan atau belumlah ada dan berarti Akhirat itu belum ada.

Di kedai itu kami diskusi panjang lebar dan akhirnya sama-sama sepakat dengan garis pemisah adalah lahirnya padang mahsyar. Selama belum kiamat dan padang mahsyar belum lahir maka akhirat bisa dikatakan belum ada.
Tapi setelah lama mengkaji, kami berpandangan argumen pertama diatas hanya berlaku bagi kaum rasional yg berat sebelah alias tidak punya pandangan Holistik dalam memahami Akhirat. Kenapa demikian? Karena memang banyak hal yg bisa menggugurkan argumen pertama, artinya tidak hanya sebatas garis pemisah Yaumul Mahsyar saja, ada banyak kajian lain yang jauh lebih Holistik. Salah satu kajian yang kami anggap lebih holistik adalah kajian kedua atau argumen kedua.

Kedua, Akhirat itu sudah ada dan eksis jauh sebelum langit dan bumi ada.
Dasar argumennya bahwa Surga dan Neraka telah diciptakan jauh sebelum bumi diciptakan. Bahkan lebih radikal lagi sebelum realitas Alam semesta ini eksis yang dimulai dengan Big Bang (dentuman besar), ternyata jauh sebelum Big Bang semua ketetapan sudah selesai ditetapkan, bagi yang berfikiran dimensi waktu adalah variabel konstanta alias tak berubah tentu akan beranggapan bahwa "sebelum Realitas terjadi, semua peristiwa telah selesai" hal inilah yang disimbolisasikan di dalam Lauhul Mahfuds bahwa takdir telah selesai ditulis dan tinta takdir telah kering. tak ada satu peristiwa pun yang belum tertulis, daun yang gugur, setetes air yang jatuh, kesemuanya itu telah selesai ditulis.

Agak susah memang menjelaskannya, susah karena kita masih terjebak di mindset pola pikir klasik newtonian, pola pikir yang sudah tak relevan lagi alias punya keterbatasan untuk menjelaskan perkara realitas alam semesta dengan yang lebih holistik. Pada tingkatan fisik hingga mulekul newtonian masih bisa dipakai, namun dalam tingkatan partikel sub atomik, quark dan yang jauh lebih kecil pola analisa newtonian sudah tak mampu menjelaskan lagi, butuh pijakan baru dan para ilmuan fisikawan telah jauh-jauh hari menemukan scara sainstifik perkembangan dari cara pandang manusia dalam hal memandang Realitas Alam Semesta. Termasuk dalam memandang kelakuan partikel sub atomik, memandang relativitas waktu, database alam semesta, dsb.

Pada malam itu kami ngobrol sampai subuh. Namun karena beberapa hal untuk bagian kedua saya tak bisa menuliskannya lebih jauh. selain karena tak akan cukup hanya dengan selembar atau berpuluh lembar catatan. kajian yang kedua banyak sekali cabangnya, tapi pada ujungnya segala hal ihwal terkait Akhirat yang selama ini sulit dinalar, ternyata bisa dirasionalkan dan segala kebuntuan akal menjadi musnah.

Seperti yang disebut di awal, tidak semua kaum spiritual adalah dogmatis, sainstis bukan hanya milik kaum non-spiritual saja, kaum non-spiritual pun apabila terlalu mendewakan sains jatuhnya hanya akan menjadi manusia empiris yang sok tahu dan anti-kritik.

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. …

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…