Skip to main content

Boromania, Lumpia PERSIBO Dan Sebuah Tradisi ''Kampungan'' yang Harus Dihilangkan

Hari ini merupakan hari yang bersejarah buat para penggemar bola di Kota tercinta Bojonegoro. Setelah beberapa tahun vakum kini PERSIBO bangkit kembali. Meskipun harus memulai dari kasta terendah Liga Indonesia namun semangat official club maupun para penggemarnya tak menciut, kebangkitan PERSIBO bagaikan oase di tengah pada pasir bagi BOROMANIA.
Pada uji coba pertama hari ini terlihat sekali antusias para Boromania dari segala penjuru kota tercinta. Layaknya perayaan hari raya setelah berpuasa selama beberapa tahun.

Ada banyak hal menarik yang saya perhatikan pada pertandingan persahabatan antara PERSIBO VS PERSEMA hari ini. Jujur saja saya tidak begitu memperhatikan jalannya pertandingan hari ini, perhatian saya terfokus pada ribuan Boromania diatas tribun. Rasanya ada rindu mendalam yang terobati ketika menyaksikan itu semua. Rindu akan atmosfer stadion yang penuh riuh kawan-kawan Boromania, loncat-loncat bareng, menyanyikan yel-yel bareng, tapi ada satu hal lain yang lebih saya rindukan dari semua itu. Apalagi kalau bukan LUMPIA PERSIBO. Jajanan khas para suporter bola Bojonegoro ini hanya bisa kita jumpai saat Persibo menggelar pertandingan. Harganya yang murah meriah serta rasanya yang tak kalah yahuut membuat para boromania selalu rindu dengan jajanan yang satu ini. Apalagi setelah PERSIBO mati suri bertahun-tahun.

Di awal-awal laga ada sebuah kebanggaan menyaksikan suporter di tribun utara, ada kreatifitas dan kekompakan yang mereka tunjukkan. Banyak yel-yel baru yang saya dengar lebih sopan tanpa ada rasis. Kreatifitas mereka juga semakin terbentuk setelah lama tidak menginjakkan kaki di tribun stadion ini. Saya berpikir ini merupakan satu hal yang harus kita semua teladani sebagai suporter, keruntuhan tim jagoan justru mendewasakan mereka, terbukti dengan kreatifitas-kreatifitas baru mereka. Curva North 1949 bisa menjadi contoh positif untuk semua Boromania.
Karena saya melihat masih ada beberapa oknum suporter yang "kampungan" menurut saya. Bagaimana tidak, tradisi membuly BORONITA masih saja ada. Menyorak i setiap cewek yang melintas, melontarkan kata-kata yang tak pantas menurutku. Bahkan kemarin di tribun tempat saya duduk banyak suporter yang melempar botol minuman ketika ada BORONITA yang melintas. Ada baiknya kita sebagai suporter juga memperhatikan beberapa peraturan PSSI untukpenonton dan suporter.

Dalam tulisan ini saya akan memfokuskan pada Penonton dan Suporter. Pada pasal 59 Peraturan Organisasi PSSI tentang Kode Disiplin PSSI menjelaskan tentang tingkah laku buruk melakukan tindakan rasis.
Ayat (1) Siapapun yang melakukan tindakan rasis berupa tingkahlaku buruk, diskriminatif atau meremehkan seseorang atau melecehkan seseorang dengan cara apapun dengan tujuan menyerang atau menjatuhkan nama baik orang tersebut yang terkait dengan pertandingan, warna kulit, bahasa, agama atau suku bangsa atau melakukan tindakan rasisme lainnya dengan cara apapun, dijatuhi hukuman sebagai berikut: apabila pelaku tindakan rasis tersebut adalah pemain, maka hukumannya adalah sanksi larangan ikut serta dalam pertandingan paling tidak 5 (lima) kali di setiap jenjang pertandingan; apabila pelaku tindakan rasis tersebut adalah suporter atau pendukung klub, maka hukumannya adalah sanksi larangan memasuki stadion sekurang- kurangnya 6 (enam) bulan bagi suporter atau pendukung klub tersebut dan sanksi denda sedikitnya Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) yang ditanggung oleh klubnya; apabila pelaku tindakan rasis tersebut adalah ofisial klub, maka hukumannya adalah sanksi denda paling sedikit Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah).
Ayat (2) Apabila penonton memasang bendera dengan tulisan slogan berbau rasis, atau terbukti bersalah melakukan tindakan rasisme lainnya dan atau bersikap melecehkan atau merendahkan orang lain dengan cara apapun pada saat pertandingan berlangsung, Komisi Disiplin PSSI dan atau Komisi Banding PSSI memberikan hukuman berupa sanksi denda sedikitnya Rp. 300.000.0000 (tiga ratus juta rupiah) kepada organisasi sepakbola atau klub yang didukung si pelaku dan diberikan hukuman lainnya berupa sanksi bermain tanpa penonton di pertandingan resmi selanjutnya. Apabila penonton tersebut tidak dapat diketahui asal klubnya, maka organisasi sepakbola atau klub tuan rumahlah yang akan dijatuhi hukuman tersebut.

Menurut saya tindakan melakukan bully terhadap para suporter wanita juga merupakan suatu pelanggaran terhadap kode disiplin PSSI tersebut diatas.
Bagaimana kita bisa menjadi suporter yang dewasa jika tradisi semacam itu terus saja dilakukan. Seharusnya kita bisa menciptakan sebuah suasana yang aman dan nyaman buat mereka para BORONITA. Kita semua berkumpul, bersorak bersama di sana karena tujuan yang sama, yaitu mendukung tim kebanggaan kita semua PERSIBO Bojonegoro, terlepas di tribun mana pun kita berdiri dan bersorak, kelas ekonomi maupun VIP. Kita tetap sama, kita tetap satu BOROMANIA.

Harapan saya, semoga ada sosialisasi dari pihak official club atau pun Korlap Suporter setiap daerah untuk memerangi tindakan-tindakan rasis pada setiap pertandingan bola, khususnya bullying kepada para wanita yang seharusnya mendapatkan suatu rasa aman dan nyaman. Mati bersama-sama kita wujudkan BOROMANIA yang lebih dewasa, kompak dan kreatif lagi.
Jaga kewarasan !!!
Salam Damai Bersaudara \m/

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. …

Cerita Dibalik Lagu WILLy Babeh Iwan Fals

Lagu ini memang sering saya putar akhir-akhir ini, bertahun-tahun mendengar lagu ini baru kali ini saya mencermati liriknya. Sempat bertanya-tanya siapa willy yang dimaksud dalam lagu ini. Apa hubungannya dengan, anjing liar, kuda binal dan mata elang??
Setelah coba nanya di beberapa forum terjawab sudah rasa penasaranku.
Willy adalah nama panggilan untuk penyair terkenal Indonesia Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih kita kenal dengan WS. Rendra. Dalam lagu ini Iwan Fals seperti kehilangan figur seorang Rendra. Ia bertanya dimanakah gerangan dirinya yang dulu, dimana lantang suaranya.
Pada masa itu, Rendra sedang mengasingkan diri entah dimana sebab dikabarkan dia mendapat ancaman dari pemerintah untuk menghentikan membuat karya puisi yang menyindir pemerintah saat itu. Rendra adalah sahabat Iwan Fals, wajar bila Iwan merasa kehilangan seorang yang sejalan pemikiran dengannya walau lewat media yang berbeda.
Sebenarnya W.S. Rendra sendiri bergelar Burung Merak namun Iwan Fals…

Ikat Pinggang Tali Sepatu ( Shoelace Belt )

Selamat malam berroo.. Bay nde wei seumpama sampean lihat orang atau anak muda pakai ikat pinggang tali sepatu, apa yang anda pikirkan??
Mungkin banyak orang mengira mereka itu orang nggak jelas atau sempel mingkin. Jangan salah..
Mereka yang melakukan hal ini adalah kelompok skateboarder, alasan mereka melakukannya adalah bukan karena fashion, melainkan lebih sesuatu yang fungsional dan alasan yang rasional serta fungsi fashion.
Termasuk saya juga, bukan karena ingin dibilang anak skate atau hardcore Family. Saya pribadi penggila Iwan Fals dan Slank jadi sering menghadiri konser-konser mereka di luar kota. Pengalaman saya setiap memasuki area konser selalu dilakukan pemeriksaan, tak jarang ikat pinggang pun disita sementara. Nah dari pengalaman ini saya tidak sengaja lihat foto teman-teman di facebook menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang. Saya coba browsing ternyata subkultural ini memang sudah lama ada.
Mereka menggunakan tali sepatu sebagai ikat pinggang lebih karena fakt…