Skip to main content

Ketika Majapahit Dikritik, Lahirnya Reog Ponorogo Dan Sekilas Tentang Demokrasi

Jauh sebelum pemberontakan Coup de etat Demak Bintara kepada Majapahit yg tahun kejadiannya ditulis oleh pujangga sejarawan jawa dengan sandhi saka = Sirna ilang Kerthaning Bhumi (1478M)

Jauh-jauh hari pihak pemerintah Majapahit telah dikritik untuk diingatkan akan bahaya dan ancaman orang-orang pendatang (orang islam) masyarakat pada zaman Feodalisme (revisi : zaman peralihan dari perbudakan ke Feodalisme yaitu disebut zaman setengah perbudakan menuju feodalisme) maksutnya zaman kerajaan Majapahit di zaman peralihan tersebut dahulu pernah mengkritik Raja.

Dalam hal ini yg dikritik adalah Raja Majapahit Raden Kertabhumi atau Bhre Wijaya ke V yang dikemudian hari digulingkan oleh anaknya sendiri (Raden Patah adalah Anak kandung Prabu Brawijaya) Pemberontakan Demak Bintara didalangi sepenuhnya oleh para Wali Songo (kubu Sunan Bonang Cs) pada waktu itu Wali Songo terpecah dua kubu, kubu Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus kemudian dikenal dengan islam putihan dan kubu Kanjeng Syech Siti Jenar dan Kanjeng Sunan Kalijaga kemudian dikenal kubu Merah atau sering disebut kubu Abangan.

Kubu Putihan bersikukuh dengan Kekhalifahan Islam, sedang kubu Merah fleksibel dan menganggap kekhalifan tak cocok di Nusantara. Dalam perkembangannya kubu islam putihan mempopulerkan syari'at dan kubu Abangan mempopulerkan makrifat.
Tapi catatan ini tak akan membahas islam putih ataupun merah yang akan di bahas adalah pada fase zaman majapahit pernah terjadi kritik keras kepada Raja. Kritik yang berangkat dari fenomena sosial yang terjadi.

Berikut saya sadur dari serial catatan Damar Shashangka yg berjudul "misi Pengislaman Nusantara dan runtuhnya Majapahit"

~~~~~~~~~~~~~`~~~~~~~~~~~
"Hingga pada suatu ketika, manakala ada acara rutin tahunan dimana para pejabat daerah harus menghadap ke ibukota Majapahit sebagai tanda kesetiaan, Ki Ageng Kutu, Adipati Wengker, mempersembahkan tarian khusus buat Sang Prabhu. Tarian ini masih baru. Belum pernah ditampilkan dimanapun."

"Tarian ini dimainkan dengan menggunakan piranti tari bernama Dhadhak Merak. Yaitu sebuah piranti tari yang berupa duplikat kepala harimau dengan banyak hiasan bulu-bulu burung merak diatasnya. Dhadhak Merak ini dimainkan oleh satu orang pemain, dengan diiringi oleh para prajurid yang bertingkah polah seperti banci. Sekarang dimainkan oleh wanita tulen. Ditambah satu tokoh yang bernama Pujangganom dan satu orang Jathilan. Sang Pujangganom tampak menari-nari acuh tak acuh, sedangkan Jathilan, melompat-lompat seperti orang gila"

"Sang Prabhu takjub melihat tarian baru ini. Manakala beliau menanyakan makna dari suguhan tarian tersebut, Ki Ageng Kutu, Adipati dari Wengker yang terkenal berani itu, tanpa sungkan-sungkan lagi menjelaskan,"

"bahwa Dhadhak Merak adalah symbol dari Kerajaan Majapahit sendiri. Kepala Harimau adalah symbol dari Sang Prabhu. Bulu-bulu merak yang indah adalah symbol permaisuri sang Prabhu yang terkenal sangat cantik, yaitu Dewi Anarawati. Pasukan banci adalah pasukan Majapahit. Pujangganom adalah symbol dari Pejabat teras, dan Jathilan adalah symbol dari Pejabat daerah."

"Arti sesungguhnya adalah, Kerajaan Majapahit, kini diperintah oleh seekor harimau yang dikangkangi oleh burung Merak yang indah. Harimau itu tidak berdaya dibawah selangkangan sang burung Merak. Para Prajurid Majapahit sekarang berubah menjadi penakut, melempem dan banci, sangat memalukan! Para pejabat teras acuh tak acuh dan pejabat daerah dibuat kebingungan menghadapi invasi halus, Imperialisasi halus yang kini tengah terjadi."

"Dan terang-terangan Ki Ageng Kutu memperingatkan agar Prabhu Brawijaya berhati-hati dengan orang-orang Islam!"

"Kesenian sindiran ini kemudian hari dikenal dengan nama Reog Ponorogo!
Mendengar kelancangan Ki Ageng Kutu, Prabhu Brawijaya murka! Dan Ki Ageng Kutu, bersama para pengikutnya segera meninggalkan Majapahit. Sesampainya di Wengker, beliau mamaklumatkan perang dengan Majapahit!"

"Prabhu Brawijaya mengutus putra selirnya, Raden Bathara Katong untuk memimpin pasukan Majapahit, menggempur Kadipaten Wengker!"
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dalam bermacam babat-babat (kisah sejarah) yang pernah saya baca, paling tidak ada keterangan bahwa dahulu sekali leluhur kita yang fase hidupnya masih di zaman Peralihan menuju Feodalisme saja pada tingkatan tertentu justru lebih paham cara berdemokrasi,

Ki Ageng Kutu saja yang saat itu menjabat sebagai Adipati Wengker, adipati semacam Bupati dan wengker sekarang daerah Ponorogo berani mengkritik Raja padahal statusnya adalah Bupati.

Bagaimana dengan zaman modern sekarang? semisal di Rembang dengan isu Pabrik Semen, di Batang dengan PLTU, di Banten dengan Privatisasi air dan masih ada 30.000 desa di dalam dan sekitar Hutan yang sejak zaman bahula sejak zaman Majalahit sampai sekarang masih terus menerus berkonflik? Apakah Bupati-Bupati sekarang berani mengkritik Presiden?

Di zaman Majapahit Adipati Wengker telah memberi contoh, seperti halnya yg saat ini dilakukan Rakyat Rembang dalam aksi Cor kaki. kalau adipati Wengker adalah semacam Bupati, Rakyat rembang adalah langsung rakyat sendiri yang protes atau mengkritik.

menjadi Aneh, di zaman peralihan menuju Feodalisme seorang adipati berani melawan Raja, padahal zaman tersebut. kekuasaan bukan ditangan Rakyat, oleh Rakyat untuk Rakyat. tapi kekuasaan di tangan Raja, Oleh Raja untuk Raja.

Bagaimana dengan sekarang?
Katanya Demokrasi? Yang seharusnya kekuasaan dari Rakyat, oleh Rakyat, untuk Rakyat? dimana Rakyat kuasanya?

Faktanya kekuasaan di tangan tuan tanah, dari tuan tanah, oleh tuan tanah, untuk tuan tanah.
Faktanya kekuasaan di tangan komprador, dari komprador, oleh komprador, untuk komprador.
Faktanya kekuasaan di tangan kapitalis birokrat, dari kabir, oleh kabir, untuk kabir.

Apakah masa Majapahit jauh lebih Demokratis dibandingkan masa Jokowi saat ini? meskipun belum berada di makna Demokratis yang sesungguhnya. Fase Demokratis dalam arti yang sebenarnya hanya akan terwujud ketika Rakyat merebut kekuasaan dan mendirikan Diktaktor Demokrasi Rakyat.

Banyak teory soal Demokrasi tapi saya berpandangan Demokrasi sendiri sebenarnya adalah Diktaktor, cuman Diktaktornya diktaktor apa dan untuk siapa. Secara Universal Demokrasi adalah "kekuasaan tertinggi di tangan rakyat" Namun dalam konsepsi negara kelas tentulah musti dilihat siapa kelas yg berkuasa, di masa kerajaan Demokrasinya adalah Otokrasi, demokrasi dari Raja, oleh Raja, untuk Raja. dimasa Kolonialisme belanda demokrasinya dari belanda, oleh belanda, untuk belanda, dimasa orde baru demokrasinya dari suharto, oleh suharto, untuk suharto.

Lalu dimasa sekarang Demokrasinya dari siapa, oleh siapa dan untuk siapa. Apakah untuk rakyat?

Sebelum Rakyat bisa mendirikan Diktaktor Demokrasi Rakyat atau Pemerintah Rakyat, jangan pernah mimpi tentang Demokrasi sekarang karna faktanya saat ini (zaman Jokowi) yang berkuasa adalah Tuan Tanah, Kabir dan Komprador.

****

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Sem…

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Sebait Puisi Pembuka Konser Suara Untuk Negri Cimahi Bandung

Konser Iwan Fals yang bertajuk Konser Suara Untuk Negri yang diselenggarakan di  Cimahi Bandung bersama Jamrud dan Gigi memang banyak melahirkan inspirasi dan juga semangat buat saya pribadi yang memang mengidolakan Bang Iwan sejak kelas 4 SD. Ada yang menarik di Konser kali ini, Bang Iwan membuka konser dengan sebait puisi yang entah siapa yang menciptakan, saya sendiri kurang tau, yang pasti suara khas Iwan Fals membuat suasana semakin hening.Pada alam yang indah
Pada langit yang mempesona
Kau tunjukkan wajah-Mu
Dengan begitu Kau ajarkan keindahan
Dan rasa syukurKemarin Kau luapkan air bah
Kau muntahkan perut bumi
Kau sebarkan debu
Sesungguhnya Kau tengah mengajarkan cinta
Agar ada rasa kasih walau tak saling kenal
Dan kini untuk alasan yang sama kita bersama
Bersatu atas nama cintaKalimat demi kalimat dalam puisi tersebut sangat menginspirasi, mengajarkan kita untuk tetap bersyukur disela cobaan dan kesedihan yang kita hadapi.
Mengajarkan kita untuk berpikir positif, dan yakin dibalik semua…