Skip to main content

Komersialisasi Pendidikan: Indonesia Lupa dengan Cita-cita didirikanya

Mendekati momen 1 mei sebagai hari buruh Internasional (mayday) dan diikuti tanggal 2 mei sebagai hari Pendidikan Nasional, Keadaan Republik Indonesia memprihatinkan. Keadilan dan Pendidikan hanya milik orang kaya. kebijakan pemerintah semakin jauh dari cita cita bangsa Indonesia yaitu “Mencerdaskan Kehidupan bangsa” dan “menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Pendidikan jelas adalah tulang punggung maju dan berkembangnya sebuah bangsa. Hanya dengan pendidikan yang baik, bangsa Indonesia dapat mencapai kemakmuran. Namun jika melihat keadaan sekarang, Pendidikan masih sangat terbatas. Masih sangat banyak rakyat Indonesia yang kurang mampu dan tidak bisa bersekolah hingga kuliah, apalagi di daerah. Pendidikan masih hanyalah milik orang kaya yang berkecukupan. Biaya kuliah yang terus melonjak memupuskan harapan rakyat kecil untuk mengakses pendidikan tinggi. Komersialisasi pendidikan menjadi penghambat dan musuh bersama Mahasiswa dan rakyat Indonesia. Keadaan seperti ini mengingatkan saya dengan keadaan masa penjajahan belanda dimana tidak ada keadilan dan hanya orang kaya yang bisa mengenyam pendidikan.

Perlu diketahui bahwa hari ini bangsa Indonesia sudah tidak berlandaskan UUD 1945 lagi. Karena UUD amandemen 2002 lah yang dipakai. Dan Amandemen tersebut bukan berisi penambahan dan penyempurnaan (addendum), namun adalah “Pengubahan” yang isinya banyak penyelewengan terhadap nilai nilai pancasila dan amanat proklamasi 1945.

Namun jika kita mengacu pada UUD 2002 pun. pasal 31 ayat 4 tidak dijalankan oleh rezim.

              Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. ****)

Kenapa Republik Indonesia cenderung melupakan pentingnya pendidikan??
Komersialisasi pendidikan tanpa sadar merasuk kedalam kehidupan bangsa Indonesia, melalui liberalisasi pada amandemen UUD 1945 pasal 33.

UUD 1945 pasal 33 yang asli yaitu Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak (termasuk Pendidikan) dikuasai oleh Negara (ayat 2). Dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (Ayat 3) maka jelas sumber ekonomi Indonesia haruslah berdasarkan pada keadilan, Khususnya pendidikan.

Namun pada UUD amandemen 2002 pasal 33 ayat 4 (pasal tambahan) sumber ekonomi penting tersebut dijalankan berdasarkan “efisiensi” berkeadilan. Kata Efisisensi inilah yang membuat banyak ketidak adilan di sektor-sektor ekonomi Indonesia, termasuk di bidang pendidikanpun dianggap sebagai sumber ekonomi yang juga boleh didasarkan pada “Efisiensi”.

Berdasarkan kata “Efisiensi” pada UUD 2002 itulah. Pendidikan dianggap sebagai sebuah sumber ekonomi yang boleh di komersialisasi. Memang Pada tahun 2010 dengan dorongan mahasiswa, mahkamah konstitusi telah mencabut UU No.9 tahun 2009 tentang badan hukum pendidikan (UU BHP). Namun pada tahun 2012 muncul kembali musuh baru yaitu UU No.12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi (UU DIKTI) yang isinya lagi lagi komersialisasi pendidikan.

Alih-alih memajukan pendidikan agar terdistribusi dengan baik dan adil kepada seluruh rakyat Indonesia, UU tersebut malah berdampak pada semakin tidak terjangkaunya biaya kuliah. Pergolakan mahasiswa hari ini pun kian marak di masing-masing kampus memprotes kebijakan rektorat yang kerap menaikan harga kuliah. Padahal bicara komersialisasi pendidikan, mahasiswa menghadapi musuh yang sama, yaitu UU Dikti yang membuat kampus menjadi seperti Perusahaan yang money oriented dan berakar pada Amandemen UUD 1945 yang apancasilais.

Hal tersebut paling parah dirasakan dan memberatkan rakyat kecil. Yaitu kaum menengah ke bawah. Salah satunya adalah buruh yang gaji dan kesejahteraanya masih sangat minim hingga sekarang. Buruh sebagai elemen penting dalam roda ekonomi suatu Negara, khususnya di Indonesia masih terbilang dalam kondisi yang memprihatinkan. Gaji buruh pun terbilang minim jika dibandingkan dengan intensitas pekerjaan yang terbilang berat.

Begitu juga dengan petani dan nelayan yang kerap digusur dan ditindas oleh penguasa. Amandemen UUD 1998-2002lah yang mengakibatkan Hilangnya sistem Ekonomi Pancasila dan hilangnya budaya Musyawarah, Koperasi dan gotong royong di tanah air. Tidak bisa dipungkiri bahwa semua asas kekeluargaan dalam UUD yang dicita citakan oleh para pendiri bangsa telah digusur oleh sistem kapitalisasi

Bagi mahasiswa sebagai Agent of change dan calon buruh masa depan, Adalah sebuah tantangan besar untuk merubah atau setidaknya berbuat sesuatu untuk melawan ketidak-adilan yang ada di republik tercinta ini.

Oleh: Ilham Oetomo*
(*). Pendulis adalah Mahasiswa UI

Comments

Popular posts from this blog

Punakawan ( Semar, Gareng, Bagong, Petruk )

Punakawan adalah karakter yang unik dan khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. ya....merekalah Semar, Gareng Petruk, Bagong.
Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.
Jika melihat ke biografi karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.

Semar ( Sang Bapak )

Semar merupakan pusat dari punakawan sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Sem…

Tuhan Terlalu Cepat Semua ...* 10 - 02 - 2010

Tuhan terlalu cepat Kau panggil dia, seorang yang selalu ada untuk q, seorang yang gag pernah membuat q bersedih, seorang sahabat yang dewasa dan selalu bisa mengerti keadaan q.
rasanya baru kemarin aq bercanda denganmu kawan, baru beberapa hari yang lalu rasanya aq dengar suaramu, tapi semua itu gag kan lagi q temui di dunia ini.
kawan, kini kau telah tiada lagi di dunia ini, aq rindu tawa mu kawan, aq rindu nasihatmu.

Semoga kau mendapat tempat terindah disisi-Nya.
hanya mengingat kenangan indah bersamamu yang mampu q lakukan, bersama tetesan air mata yang gag pernah terlewatkan saat aq mengenang masa masa bersamamu.
selamat jalan sobat q, semoga damai hidup keduamu disana,,,

Kawanku, ingin rasanya kutaburi bunga di tempat peristirahatanmu
Tapi apalah daya kawan, jarak inilah yang membuat anganku itu tertunda..
dan hanya doa yang bisa kupanjatkan pada-Nya….

Kawanku, kini saatnya aku bertanya pada Tuhanku,
Kenapa orang baik sepertimu begitu cepat meniggalkan keramaian hidup?
Apakah …

Sebait Puisi Pembuka Konser Suara Untuk Negri Cimahi Bandung

Konser Iwan Fals yang bertajuk Konser Suara Untuk Negri yang diselenggarakan di  Cimahi Bandung bersama Jamrud dan Gigi memang banyak melahirkan inspirasi dan juga semangat buat saya pribadi yang memang mengidolakan Bang Iwan sejak kelas 4 SD. Ada yang menarik di Konser kali ini, Bang Iwan membuka konser dengan sebait puisi yang entah siapa yang menciptakan, saya sendiri kurang tau, yang pasti suara khas Iwan Fals membuat suasana semakin hening.Pada alam yang indah
Pada langit yang mempesona
Kau tunjukkan wajah-Mu
Dengan begitu Kau ajarkan keindahan
Dan rasa syukurKemarin Kau luapkan air bah
Kau muntahkan perut bumi
Kau sebarkan debu
Sesungguhnya Kau tengah mengajarkan cinta
Agar ada rasa kasih walau tak saling kenal
Dan kini untuk alasan yang sama kita bersama
Bersatu atas nama cintaKalimat demi kalimat dalam puisi tersebut sangat menginspirasi, mengajarkan kita untuk tetap bersyukur disela cobaan dan kesedihan yang kita hadapi.
Mengajarkan kita untuk berpikir positif, dan yakin dibalik semua…