Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2016

HOS Tjokroaminoto, Pemikiran terhadap Islam, Sosialisme dan Kemerdekaan Bangsa

Bagi kita, orang Islam, tak ada sosialisme atau rupa-rupa “isme” lain-lainnya, yang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia, melainkan sosialisme yang berdasar Islam itulah saja” (HOS Tjokroaminoto)Tahun 1924 di Mataram, HOS Tjokroaminoto seorang pendiri dan sekaligus ketua Sarekat Islam (SI) menulis buku “Islam dan Sosialisme”. Buku tersebut ditulis oleh Tjokro, di samping karena pada waktu itu tengah terjadi pemilihan-pemilihan ideologi bangsa, juga lantaran pada waktu itu paham ideologi yang digagas para tokoh dunia sedang digandrungi oleh kalangan pelajar Indonesia, di antaranya sosialisme, Islamisme, kapitalisme dan liberalisme.Titik temu antara realitas kebhinekaan dan pesan pesan Al’Quran tentang kemanusiaan telah turut mengilhami kebangsaan dan terbentuknya bangsa Indonesia. Perlibatan diri dalam praksis perjuangan dalam kolonialisme tidaklah dipandang sebagai “perilaku sekunder” dalam menjalankan perintah dan ajaran Agama, akan tetapi sebagai tanggung jawab sebagai muslim untu…

Ketika Anti Komunisme Menjadi "Agama Negara"

"Di bawah Suharto, antikomunisme menjadi agama negara, lengkap dengan segala situs, upacara, dan tanggal-tanggalnya yang sakral."-John RoosaPada dini hari 1 Oktober 1965, tujuh kesatuan unit militer bergerak di Jakarta menuju rumah tujuh jenderal paling senior di angkatan bersenjata.Tiga dibunuh, tiga ditangkap, dan satu orang, Abdul Haris Nasution berhasil lolos, meski anak perempuannya yang berusia lima tahun, Ade Irma Suryani, tewas tertembak. Ajudannya, Lettu Pierre Andreas Tendean juga turut ditangkap.Tiga jenderal (bersamanya juga Pierre Tendean) yang ditangkap kemudian dibawa ke markas udara di selatan Jakarta dan dibunuh. Jenazah mereka yang dimutilasi kemudian dibuang ke sumur.Kejadian inilah yang kemudian kita kenal sebagai G30S atau Sukarno menyebutnya sebagai Gestok. PKI disebut-sebut sebagai dalang "usaha kudeta" ini. Pada Januari 1966, seiring dengan maraknya aksi demonstrasi mahasiswa yang digerakkan oleh Angkatan Darat melalui Jendral Syarif Thayeb…

Kanan kiri oke

Pembubaran dan penolakan acara-acara "ke-kiri-an" seringkali terjadi, maksud gue, nggak hanya hari ini. Ingatlah beberapa tahun lalu, saat acara pemutaran film "Senyap" di beberapa kampus diserang, dibubarkan paksa, bahkan diberondong batu oleh oknum-oknum yang merasa dirinya benar. Entah apa yang mereka pikirkan sehingga kalap berbuat "selembut itu". Padahal yang ditonton hanya film sarat sejarah (film yang sejatinya menawarkan sejarah. Secara fair, nggak seperti buku-buku sejarah yang dipelajari dan diimani oleh sekolah-sekolah negeri ini).

Entahlah dan sudahlah. Mungkin yang gue pikirkan nggak seperti apa yang ada di otak orang-orang "paling benar" itu . Saat gue berpikir bahwa belajar itu adalah kegiatan memahami segalanya, apapun disiplin ilmunya, bahkan apapun ideologinya, mungkin mereka nggak berpikir demikian. Dan gue berpikir, Belok Kiri Fest adalah wadah untuk belajar atau meminjam istilahnya Gus Miek, 'belajar tanpa kelas'.

Bo…

Esai Munir Untuk Widji Thukul

Hanya ada satu kata, Lawan! kalimat pendek itu jauh lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul sebagai seorang yang telah menorehkan sebuah puisi perlawanan. Dia telah berhasil menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan. Hanya ada satu kata, Lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Tidak ada satu pun kelompok perlawanan yang kemudian tidak menggunakan kalimat pendek itu sebagai tekad bagi sebuah perubahan, tidak peduli itu mahasiswa, buruh, petani, guru, bahkan murid SMU. Memang kalimat itu belum mendunia seluas adagium-adagium kelas dunia seperti "ora et labora" dan "vini vidi vici", tapi memang kalimat pendek itu telah menunjukkan pilihan hidup Wiji Thukul untuk bergabung dengan setiap barisan perlawanan atas rezim militeristik Orde Baru. Pilihan itu memang bukanlah pilihan yang mudah, Wiji Thukul telah membayarnya dengan mahal, ia telah menjadi korban …

Marxisme Bukan Aliran Sesat

Sadarlah !Selama menulis ini saya terus mengingat percakapan-percakapan yang pernah terjadi di masa lalu. Lalu ada satu hal yang menarik perhatian saya, yaitu ketika ada sekelompok orang yang mengaku islamis dan nasionalis mencap marxis sebagai "aliran sesat" dan harus diberantas.Mungkin para marxis yang kelewat emosi akan berkata "Halah itu hasil doktrin orba" dan sebagainya. Disini saya tidak akan mengikuti mereka yang kelewat emosi. Disini saya akan memberitahu kalian yang mengaku nasionalis dan islamis bahwa KAMI BUKAN MUSUH KALIAN.Ya kami bukan musuh kalian. Dalam tulisannya yang berjudul "Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme" pada tahun 1926 (dimuat dalam buku "Panca Azimat Revolusi"), Ir. Soekarno pernah menjelaskan mengenai hal ini jauh sebelum adanya doktrin-doktrin "anti komunisme" yang bisa dibilang menjadi agama nasional hingga saat ini.Tenang saja bung, jika kalian belum pernah membaca tulisan Bung Karno di atas atau lupa…

Sejarah Singkat Anarkisme

Hampir selalu buku tentang anarkis mengejar urutan kronologis, mulai redup dan jauh masa lalu dan menyoroti apa yang biasanya disebut "pohon keluarga." Kemudian bergerak ke membahas "Great Men" anarkisme, dimulai dengan William Godwin, sebelum pindah untuk Proudhon, Stirner, dan sebagainya.Ini, bagaimanapun, adalah salah. Anarkisme tidak berkembang dengan cara ini.Ada unsur kebenaran dalam pendekatan ini, sejauh banyak orang yang berbeda dan gerakan telah menyatakan ide-ide anarkis dan telah dipanggil anarkis oleh musuh-musuh mereka (terutama baik dalam bahasa Inggris dan Perancis Revolutions). Namun, pemikir dan gerakan tidak menciptakan anarkisme atau gerakan anarkis.Fakta adalah bahwa "anarkis" pertama kali digunakan dalam arti positif oleh Proudhon pada tahun 1840 karyanya Apa Properti? Dan anarkisme dikembangkan setelah ini sebagai teori sosial-ekonomi bernama dan gerakan.Modern ( revolusioner ) anarkisme dikembangkan di Working Association Pria Inte…