Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2016

Rush Money Kii Opo Tooo??

Waah sudah tanggal dua lima ya.. Seperti biasa saya bangun pagi-pagi dan tidak lupa membuka satu persatu akun media sosial saya. Baru sadar kalau hari ini adalah tanggal 25 Nopember setelah melihat beberapa status beberapa sahabat dengan taggar #selamathariguru. Tapi ada hal lain yang melintas dipikiran saya seketika tahu hari ini adalah tanggal 25/11. Waduuhh.. waduuhh.. seketika langsung teringat isu #rushmoney. Mereka yang katanya anti uang riba akan menarik uang secara serentak dari bank pada hari ini. Walaah..walaahh.. jadi tidak sabar pengen lihat bagaimana hasilnya nanti. Menurut penggagas ide rush money gerakan ini mampu melumpuhkan perbankan skala nasional.
Katanya dalam bisnis perbankan 90% uang yang masuk dari nasabah tidak disimpan di dalam brankas atau ATM, tetapi diputar dan dikembangkan. Salah satunya dengan cara dipinjamkan. Jadi dana cash yang ada di bank dan ATM cuma 10% saja. Kalau semua nasabah mengambil 10% saja dari tabungannya secara bersamaan, praktis bank akan…

Pancasila Dalam Secangkir Kopi

Masih tentang suasana damai disekitar secangkir kopi. Bukan tentang jutaan inspirasi dalam setiap tegukannya, bukan pula tentang luapan filosofi dibalik hitam pekatnya. Tapi lebih dekat lagi dalam hati setiap pecinta kopi, adalah sebuah kekeluargaan.
Aku merasa sudah begitu akrab dengan suasana semacam ini, dimana sekumpulan orang saling bertukar pikiran, berbagi canda tawa, menghibur diantara mereka hanya terdiam memperhatikan dan dirundung kemurungan.
Inilah sebenar-benarnya suasana warung kopi. Berbagai macam profesi yang berbeda, latar belakang pendidikan dan isi kepala yang tak sama, membaur dalam sebuah tradisi yang kita semua telah sepakati dengan sebutan "ngopi". Karena secangkir kopi mereka mampu saling memahami, seakan semua gejolak dalam kepala bersatu dalam satu warna, hitam pekatnya secangkir kopi. Berbeda pendapat dan pemikiran adalah hal wajib yang setiap hari menjadi bumbu penyedap perbincangan mereka. Disini tidak ada sosok matarom yang pongah dengan catur p…

Pakdhe Ahok, Surat Almaidah Dan Aks Damai i (katanya)

Selamat sore bateh-bateh.. Niih cah pengangguran mau ikut  corat-coret.
Sebenarnya rada males ikut-ikutan bahas masalah Pakdhe Ahok yang dianggap melakukan penistaan agama, tapi setelah stalking sana-sini jadi gatel juga pengen corat-coret.Pakdhe Ahok yang masih menjabat sebagai gubernur kota mertopolitan pasca patnernya naik kelas jadi presiden yang katanya dulu dipilih secara demokrasi sama mereka-mereka warga DKI yang mungkin "Sebagian" dari mereka kemarin ikutan piknik ke istana, bilang "jangan mau dibodohi PAKAI surat Al-maidah", lah.. terus itu video jadi viral banget pro-kontra yang ujungnya SARA.
Ini yang pada gagal paham sebelum pemilihan cagub dulu belum tau tafsirnya dari surat Al-maidah tentang kemimpinan sampe baru sadar setelah Pakdhe Ahok jadi guberbur dan berkicau seperti itu ya? Pertama.. dari jauh-jauh hari kita sudah tahu kalau Pakdhe Ahok ini non muslim yang agamanya diakui di NKRI, dan selayaknya saya sebagai seorang yang lahir dari keluarga mu…

Seharusnya Kita Malu, Seharusnya Kita Prihatin

Suatu malam pada sesi tanya-jawab di televisi, Panglima TNI Gatot Nurmantyo berkata, “Pada dasarnya, masyarakat Indonesia itu suka perang”.  Sontak saya termenung. Saya jadi prihatin, karena pernyataan tersebut diucapkan dan disadari oleh pihak yang ditugaskan untuk melindungi rakyatnya dari kondisi darurat perang. Pernyataan tersebut akan terasa lebih tepat jika diucapkan – atau minimal disadari – oleh setiap elemen masyarakat yang telah mengerti hitam-putih kehidupan. Setelah adanya pengakuan dan kesadaran untuk mengakui tingginya nafsu bertempur pada diri masyarakat tersebut, hal yang perlu mereka sadari adalah bahwa perang tersebut sia-sia belaka. Harus ada keberanian pada diri setiap masyarakat untuk mengakui bahwa perjalanan sejarah bangsa kita – telah dilalui dengan berdarah-darah – sehingga setiap anggota masyarakatnya sadar betul akan manfaat perdamaian dan tak jatuh pada lubang yang sama. Karena syarat terwujudnya perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, adalah menciptakan …

Warung Kopi Dari Waktu Ke Waktu

"Semakin dalam berkubang di dalam warung kopi, semakin ajaib teman-temanku."
"Kopi bukan sekedar air gula berwarna hitam, tapi pelarian dan kebahagiaan."

Kubaca kutipan itu pada sebuah karya novel, Cinta Dalam Gelas  Andrea Hirata. Warung kopi merupakan tempat bagi segala nasib bermuara. Bukan hanya hitam pekat secangkir kopi yang tertuang disana, lebih dari itu ada banyak hal lain yang bisa kita nikmati. Seperti yang ditulis Bang Andrea Hirata pula,

"Disana kau akan dengar,
Para penganggur akan sibuk menghujat pemerintah,
Para suami mengeluhkan hutang piutang,
Hingga buruh yang berbincang perihal rencana demo kenaikan upah."

Aku ingat, saat itu aku duduk di kelas satu SMP, pertama kali memasuki sebuah tempat yang asing bagiku dan untuk pertama kalinya pula melihat berbagai macam ekspresi wajah yang berbeda dalam sebuah ruangan dengan kursi beserta meja yang berjajar, diatasnya tersaji beberapa macam jajanan. Kemudian aku mengenalnya dengan nama…